Arsip Tag: wisata budaya

Candi Borobudur, candi Budha nan megah di Magelang

Candi Borobudur merupakan salah satu candi Budha terbesar di indonesia. Terletak sekitar 40an Km dari Kota Yogyakarta, tepatnya di kecamatan Borobudur, kabupaten magelang Jawa Tengah. Didirikan sekitar tahun 800an Masehi pada waktu pemerintahan Dinasti Syailendra.

Candi ini berada di sebelah utara pegunungan menoreh dan di sekitarnya terdapat gunung Sumbing, Sindoro, Merapi dan Merbabu. Karena dekat dengan gunung merapi, tahun 2010 candi ini tidak lepas dari hujan pasir dan abu yang melanda wilayah yogya dan magelang. O iya, seperti di ketep, di Borobudur wisatawan juga bisa menyaksikan pemutaran film erupsi merapi 2010.

Candi Ini tidaklah jauh dari rumahku, sekitar 15km. Tetapi karena harga tiket masuk sekarang yang lumayan mahal sekitar 30rb/orang membuat kunjungan ke wisata warisan dunia ini tidak terlalu sering dilakukan.

DSC_6232

begitu memasuki kawasan borobudur, semua wisatawan berusia 16+ diwajibkan mengenakan kain sarung yang telah disediakan oleh pengelola kawasan. hal ini juga Berlaku untuk candi Prambanan dan candi Boko yang masih berada dibawah satu manajemen.  Dulu waktu awal2 dilakukan penerapan penggunaan sarung ini saya pernah berkelakar dengan petugas di sana “Pak, aku ki wes urip neng magelang 20an tahun, kaya’nya belum pernah dengar adanya kain sarung khas Magelang deh”. Petugas saat itu pun cuma tersenyum.. hahaha. Ya mungkin penggunaan sarung untuk lebih menghormati Borobudur sebagai salah satu warisan Budaya Dunia dan Sebagai tempat Beribadat saudara kita yang beragama Budha.

inilah foto-foto di candi borobudur :

DSC_6239 DSC_6243 DSC_6249 DSC_6250 DSC_6251 DSC_6266 DSC_6283 DSC_6290 DSC_6292 DSC_6299 DSC_6313 DSC_6327 DSC_6337 DSC_6339 DSC_6355 DSC_6364 DSC_6368 DSC_6389 DSC_6392 DSC_6395 DSC_6397 DSC_6409 DSC_6415 DSC_6235

Iklan

Grebeg Maulud di masjid gede kauman Yogyakarta 2014

Image

Pagi itu, 14 Januari 2014, kegiatan diawali dengan agenda melihat Grebeg Maulud. Ini merupakan salah satu event menarik di kota budaya ini, meskipun grebeg serupa juga diadakan di keraton surakarta. Grebeg Maulud sendiri dilaksanakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad. Pada kesempatan ini, pihak keraton memberikan rasa  syukur dengan memberikan gunungan yang antinya akan di”rayah” oleh segenap warga yang hadir dalam acara ini. Jalannya prosesi upacara tradisional GrebegMaulud diawali dengan iring-iringan Gunungan Lanang, Wadon, Gepak, Pawuhan dan Dharatserta Gunungan Bromo yang dikeluarkan dari dalam Kraton Ngayogyakarta Hadiningratmelewati Siti Hinggil, Pagelaran, Alun-Alun Utara hingga berakhir di halaman masjid GedeKauman Yogyakarta jam 8an ku sudah menginjakkan kaki di alun-alun utara yogyakarta, Di depan masjid gede kauman ternyata sudah berkumpul banyak orang yang akan mengikuti acara grebeg maulud ini. Meskipun Grebeg di Keraton Yogyakarta ini dilaksanakan bukan hanya pada saat perayaan Maulud nabi saja tetapi juga dilaksanakan pada saat Besar dan idul Fitri, yang merupakan Perayaan keagamaan bagi umat muslim. Hal ini juga menunjukkan bahwa kasultanan Yogyakarta, dimana sultan berkedudukan bukan hanya sebagai penguasa wilayah tetapi juga sebagai pemimpin dan pemuka agama “sayidin panata gama, khalifatullah tanah jawa” kalau tidak salah (sudah tidak membuka buku sejarah berapa lama ya). itulah sepenggal dari nama resmi Sri Sultan yang berkuasa di kasultanan Ngayogyakarta hadiningrat. Image

Ini pertama kalinya aku mengikuti prosesi grebeg Maulud di pelataran masjid Yogyakarta, dulu pernah di masjid gede keraton surakarta, maupun di kepatihan Yogyakarta. tetapi ini pengalaman pertama di Masjid Gede kauman keraton Yogyakarta. Sudah sejak pagi orang-orang berkumpul disekitaran Masjid gede kauman, bukan hanya berasal dari yogyakarta sendiri tetapi dari berbagai tempat dari seluruh pelosok tempat. Motivasinya ada bermacam-macam mengikuti acara  seperti ini, mulai dari “ngalap berkah” sampai hanya mencari foto saja seperti aku.

. Image

Mulai pagi, pintu depan Masjid agung sudah ditutup, warga yang sudah berada di dalam diminta untuk berada di samping utara maupun selatan pelataran depan masjid, dengan dibatasi sebuah tambang, tapi ya namanya banyak orang, pasti susah banget mengaturnya. Yang belakan sering mendorong pengunjung yang berada di bagian depan, ada yang ingin merangsek masuk.

. Image

Hampir 3 jam menunggu dibawah suasana yang cukup panas, meskipun malam sebelum acara ini hujan deras melanda hampir seluruh wilayah yogyakarta, tetapi pagi ini suasana begitu terik. Untung banyakpenjual yang ada disekitar halaman masjid agung ini. Salah satunya ibu ini yang mencoba peruntungan dengan menjual dawet

Image

luamayanlah semangkok dawet bisa sebagai pengobat rasa haus yang melanda, setelah semangkok ternyata enak, akhirnya nambah lagi.. hahahaha, akhirnya cukup 2 mangkok dawet saja, langsung diminum tanpa menggunakan sendok (kayak minum dawet jaman dulu langsung dari mangkoknya)

Cukup lama menunggu…. menunggu dan menunggu…… hingga setelah 3 jam menunggu, jam 11 kurang gunungan baru memasuki masjid agung. ada 5 gunungan yang dibawa menuju masjid agung ini.

Image ImageImageuluImage Image

Setelah didoakan oleh imam masjid agung, Gunungan persembahan dari Keraton tersebut langsung di serbu oleh warga….. kadang Banyak yang sudah tidak sabar berebut gunungan meskipun imam belum selesai berdoa…

Capek nunggunya, berdesakan, itulah yang dirasakan….. setelah acarapun jalan sekitar alun2 padat banget, orang jalan pun berdesakan. tapi itulah pengalaman yang luar biasa.