Arsip Tag: Tulip sardjito

Kenapa Obat khemo pakai alat yang free PVC?

Penggunaan Alat kesehatan yang mengandung polyvinyl chloride (PVC) cukup banyak. Hal tersebut dikarenakan bahan PVC mempunyai karakteristik fleksibel, transparan, kuat. Untuk PVC murni cenderung lebih rigid dan rapuh,. sehingga diperlukan bahan tambahan  plasticizer untuk memperbaiki sifat materialnya.

Sebagian besar selang infus PVC mengandung di-2-ethylhexyl phthalate (DEHP) sebagai platicizer untuk memberikan kelenturan pada selang infus.

aDEHP

Banyak laporan yang menyebutkan mengenai efek toksik DEHP yang dilepaskan dari selang PVC selama infus intravena larutan obat dalam cairan. DEHP yang dilepaskan mempengaruhi metabolisme manusia dan dapat mengurangi efikasi obat mengingat adanya adsorpsi obat pada permukaan dalam dari selang infus PVC. Selain adsorpsi obat karena pelepasan DEHP, surfaktan (seperti polysorbate 80/Tween 80 dan polyethoxylated castor oil/Cremophor EL) yang dimaksudkan untuk meningkatkan kelarutan obat anti-kanker, dapat berinteraksi dengan DEHP yang dilepaskan dari selang infus. Plasticizer dapat mempengaruhi efikasi surfaktan dan mengurangi kelarutan obat anti-kanker lipofilik dalam larutan aqueous, sehingga obat anti-kanker yang mengalami presipitasi tidak cukup untuk mempertahankan efikasi pharmaceutical aslinya. EPA telah mengidentifikasi DEHP sebagai racun reproduksi.

beberapa obat yang dapat melepaskan DEHP dari infus diantaranya:

  •  chlordiazepoxide HCl
  • cyclosporine
  • dosetaxel

Docetaxel termasuk salah satu kemoterapi dengan kelarutan dalam air yang buruk, oleh karena itu diformulasikan dalam polysorbate 80

  • etoposide

Etoposide menggunakan pelarut polysorbate 80 yang dapat melarutkan DEHP

  • Emulsi lipid 
  • Paclitaxel

Pelarut paclitaxel yaitu cremophor dapat melarutkan bahan plastik PVC atau DEHP

  • Teniposide

Sumber http://www.kalbemed.com/News/tabid/229/id/19561/Docetaxel-Lebih-Aman-Digunakan-dengan-Selang-Infus-Non-PVC.aspx

 

BPJS itu baik atau tidak? sebuah cerita dari Tulip

IMG_20151029_135404

Hari ini akan cerita sedikit tentang sistem jaminan kesehatan di negeri kita tercinta. BPJS beberapa saat yang lalu sempat heboh karena adanya keraguan tentang sistem jaminan melalui badan penyelenggara jaminan sosial ini. Semua kembali kedalam pribadi masing-masing. Mungkin ada yang masih ragu atau tidak mau ikut jaminan sosial lewat BPJS ini. sekarang kita melihat satu sisi dari jaminan ini. Pada bagian atas kenapa saya memperlihatkan gambar tersebut. Itu adalah faktur salah satu pasien, Pasien Kanker tepatnya di Tulip RSUP Dr Sardjito Yogyakarta. Kebetulan saya sehari-hari berada di sana.

Pasien tersebut mendapatkan obat Tasigna (nilotinib). obat tersebut dikonsumsi setiap hari (1×4 tablet) oleh pasien. pasien akan kontrol setiap 4 minggu dan akan mendapatkan obat sejumlah 112 tablet (untuk 28 hari/4 minggu). 49 juta lebih, itulah harga obat yang hanya 112 tablet dan hanya untuk 1 bulan. Bayangkan jika pasien itu setiap bulan harus menanggung beban bayar sebanyak itu? Kerjaan apa coba yang gajinya sebesar itu tiap bulan? mungkin yang pengusaha sukses sangat mudah mencari uang sebesar itu. Tapi kalau warga biasa yang kerjanya PNS, atau bahkan mungkin hanya buruh harian, sangat tidak mungkin bisa menebus obat itu.

Obat Kanker tidak murah… tapi sekarang banyak sekali penderita kanker. Jika dulu pernah dengar cerita penderita kanker harus menebus obat puluhan juta hanya untuk kemoterapi, dan itu memang benar. Contoh saja obat kemo herceptin (trastuzumab) itu harganya bisa mencapai 22 juta rupiah, dengan siklus kemoterapi setiap 21 hari dan bisa berlangsung hingga 8 siklus. Berapa banyak yang harus dibayarkan.

Mungkin sekarang banyak pasien yang sangat terbantu dalam menghadapi penyakitnya itu. Hampir semua pasien kanker di Sardjito menggunakan jaminan BPJS untuk pengobatan kanker. Jadi semua obat yang diberikan DIJAMIN oleh BPJS sehingga pasien tidak lagi mengeluarkan biaya sebesar itu lagi untuk proses kemoterapi.

Sekarang kembali ke anda mau ikut BPJS atau tidak, toh tidak ada ruginya, kalau anda sakit bisa dijamin asalkan sesuai dengan diagnosa dan obatnya. Kita tidak mengharap kita punya penyakit, tapi ya untuk mengantisipasi. Kalau yang merasa keberatan untuk ikut entah dengan berbagai alasan, termasuk karena tidak pernah sakit…. ya kita ganti cara pandang kita. Kita ikut BPJS ya kalau orang jawa bilang “idep-idep” ikut membantu pemerintah dengan memberikan subsidi silang bagi saudara kita yang seperti cerita di atas. Coba dengan cara apalagi kita akan mensuport para penderita kanker ini, mau dengan kampanye, mereka tidak butuh. Dengan simpati… belum cukup, ya menurut saya kita bantu mereka dengan mendukung sistem JKN tetep berjalan dan semoga makin banyak obat dan pengobatan yang dijamin bagi mereka…

Salam dari orang yang melihat pasien Tulip Sardjito