Arsip Tag: sitostatika

Layout Tempat pencampuran obat sitostatika

Pertanyaan yang sering terlintas dalam benak adalah bagaimana sih desain ruangan untuk pencampuran obat sitostaika?

Pencampuran obat sitostatika di rumahsakit perlu diperhatikan fasilitas fisik yang ada, terutama ruangan untuk melakukan pencampuran obat tersebut. Pada prisnsipnya adalah fasilitas pencampuran sitostatika dapat melindungi produk akhir obat dan juga petugasnya. Menurut pedoman pencampuran obat suntik dan penanganan sediaan sitostatika yang dikeluarkan kemkes 2009 dikatakan bahwa  pencampuran obat suntik dilakukan dengan cara aseptis dan dilakukan dalam Laminary Air Flow.

Menurut CPOB 2012, Tujuan dari proses aseptis adalah untuk mempertahankan sterilitas produk yang dibuat dari komponen-komponen yang masing-masing telah disterilisasi sebelumnya dengan menggunakan salah satu cara dari metode yang ada. Kondisi operasional hendaklah dapat mencegah kontaminasi mikroba. Untuk menjaga sterilitas komponen dan produk selama proses aseptis, perhatian perlu diberikan pada :

  • lingkungan;
  • personil;
  • permukaan yang kritis;
  • sterilisasi wadah/ tutup dan prosedur pemindahannya;
  • waktu tunggu maksimum bagi produk sebelum pengisian ke dalam wadah akhir; dan
  • filter untuk sterilisasi.

Dikarenakan resiko dari kontaminasi maka pencampuran sitostatika dilakukan dalam ruangan khusus dengan alat yang khusus. Selain itu akses dibatasi hanya untuk petugas khusus saja. Selain itu fasilitas untuk pencampuran sitostatika harus didesain agar memudahkan  akses keluar masuk personel dan barang serta mudah dalam melakukan pembersihan.

Ruangan harus dirancang untuk memudahkan handling secara aseptis,dan penyiapan obat sitotoksik, dan juga dirancang untuk memberikan keamanan terhadap  obat sitotoksik jika terjadi kegagalan fungsi dari alat baik BSC maupun isolator atau tumpahan. Pada  handling sitostatika menggunakan teknik aseptis diharapkan pada ruangan dengan Kelas A. Penggunaan Laminary Air flow maupun isolator dapat menjamin kondisi sesuai dengan kelas yang diharapkan. Yang membedakan keduanya adalah kondisi ruangan di sekitar alat yang digunakan. Untuk klasifikasi ruangan dapat dilihat pada tabel di bawah

https://ahmadfiki.files.wordpress.com/2013/11/pembagian-kelas.jpg?w=474

Pada penggunaan Laminary Air Flow atau juga biological safety cabinet, pencampuran obat secara aseptis untuk obat dengan ED obat <24 jam dilakukan dengan background ruangan kelas D, sedangkan dengan obat dengan waktu yang panjang >24 jam, kondisi ruangan sekitar haruslah pada kelas B. Sedangkan untuk Isolator kondisi rungan sekitar bisa dengan ruangan kelas D untuk semua kondisi obat.

Untuk contoh layout ruangan untuk handling sitotoksik / Cytotoxic Drug Reconstitution (CDR)

Untitled

Terus bagaimana dengan tekanan udara? Untuk bahan berbahaya seperti obat sitostatika, maka tekanan udara dalam alat haruslah lebih negatif daripada ruangan sekitar, untuk menghindari cemaran ke lingkungan sekitar. Alat LAF yang digunakan juga dengan aliran udara yang bersifat vertikal, sehingga udara akan terhisap masuk LAF melalui prefilter dan HEPA Filter dan tidak membahayakan petugas. Begitu juga aliran udara Ruangan Produksi/ruangan pencampuran harus lebih besar/lebih positif dibandingkan dengan ruangan disekitarnya

Untitled2

Untuk transfer obat diharuskan melewati passbox yang ada diantara ruang produksi (cleanroom) dengan ruang penyiapan. Dengan tekanan udara lebih tinggi untuk ruang pencampuran/produksi. Perbedaan tekanan diharapkan 10-15 pascal. Untuk komunikasi juga harus disediakan intercom

references:

ISOPP Standards of Practice, 2007, Facilities for sterile cytotoxic reconstitution and personal protective equipment

Pharmaceutical Services division ministry health of Malaysia,2010, Guides to the Development of Sterile Pharmaceutical Preparation Facilities

BPOM, 2012, Petunjuk Operasional Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik

Depkes, 2009, Pedoman Pencampuran Obat Suntik dan Penanganan Sediaan Sitostatika

Iklan

(Belajar) Menjadi Tukang Oplosan

Tukang Oplosan…. itulah pekerjaanku sekarang. Mungkin sekarang banyak berita tentang banyak nyawa yang melayang karena Oplosan. Nyawa mereka melayang hanya demi kenikmatan sesaat akibat yang namanya Oplosan. Tetapi ini bukan tentang oplosan yang itu. Pada prinsipnya sih sama… yaitu campur mencampur. Bedanya kalau itu alkohol (entah etanol atau metanol yg dicampur) dengan berbagai “ramuan” ala kadarnya untuk meningkatkan “kekuatan dari alkohol. Kalo aku sih sekarang dapat tugas menjadi tukang oplos obat. bukan obat sembarang obat, tetapi obat sitostatika.

reff:
kanker ganas yang datang merenggut jiwamu kasih
mengapa sakitmu tiada terobati
kanker ganas yang datang memisahkan cinta kita
musnahkan impian, hancurkan harapan

** kini hanya dapat ku menatap batu nisan
selamat tidur panjang di sisi Tuhan

          Sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan  Tommy J Pisa yang berjudul “Akibat Kanker Ganas” menemaniku saat menulis ini. Sebuah Lagu di tahun 80-90an ini sepertinya menggambarkan sebuah kisah sedih yang dialami sepasang kekasihnya. Mungkin Banyak sekali ketakutan yang timbul akibat dari penyakit yang bernama kanker, Bukan hanya sekarang tapi sudah dari jaman dahulu.

Kenapa lagu itu cukup menarik ku untuk mendengarkan? karena sekarang aku bekerja di sebuah bagian Instalasi Farmasi yang menangani Obat Sitostatika. Ya Obat sitostatika, obat yang digunakan oleh para pasien kanker. Biasanya dipergunakan pada saat kemoterapi. yah begitulah pekerjaanku sekarang. Karena obat yang harus dioplos itu obat sitostatika dan bersifat karsinogenik, maka penanganan harus khusus, meskipun hanya secara aseptis, blum layaknya instalasi steril pada perusahaan farmasi yang terbagi dalam kelas A, B. Tetapi APD (alat Perlindungan Diri) sangat diperlukan. Baju berlapis, masker berlapis, sarung tangan berlapis. Sudah gemuk ditambahi macam-macam APD, sebenarnya cukup ribet. Tapi bagaimana lagi…

indexPenanganan Sediaan Sitostatik menurut Peraturan Menteri Kesehatan no 58 tahun 2014
Penanganan sediaan sitostatik merupakan penanganan Obat kanker secara aseptis dalam kemasan siap pakai sesuai kebutuhan pasien oleh tenaga farmasi yang terlatih dengan pengendalian pada keamanan terhadap lingkungan, petugas maupun sediaan obatnya dari efek toksik dan kontaminasi, dengan menggunakan alat pelindung diri, mengamankan pada saat pencampuran, distribusi, maupun proses pemberian kepada pasien sampai pembuangan limbahnya.
Secara operasional dalam mempersiapkan dan melakukan harus sesuai prosedur yang ditetapkan dengan alat pelindung diri yang memadai.
Kegiatan dalam penanganan sediaan sitostatik meliputi:

  • a. melakukan perhitungan dosis secara akurat;
    b. melarutkan sediaan Obat kanker dengan pelarut yang sesuai;
    c. mencampur sediaan Obat kanker sesuai dengan protokol pengobatan;
    d. mengemas dalam kemasan tertentu; dan
    e. membuang limbah sesuai prosedur yang berlaku.

Faktor yang perlu diperhatikan:

  • a. ruangan khusus yang dirancang dengan kondisi yang sesuai;
    b. lemari pencampuran Biological Safety Cabinet;
    c. HEPA filter;
    d. Alat Pelindung Diri (APD);
    e. sumber daya manusia yang terlatih; dan
    f. cara pemberian Obat kanker.

Sekarang masih dalam tahap belajar, karena kecepatan dalam mengoplos masih sangat lambat, Masih belum hafal dan masih harus menghitung jumlah Obat yang harus dioplos. Meskipun Protokol dari dokter sudah ada yang membantu kita dalam pengoplosan. Obat Kanker dengan dosis berapa, dimasukkan dalam jenis Infus apa , apakah NaCl 0.9% atau dalam larutan gula dextrose 5% atau dalam media apa sudah jelas. dalam protokol obat sitostatika juga tertulis lama pemberian bera  jam. Hal tersebut memudahkan pengoplos baik dari bagian penyiapan maupun pencampuran dalam menangani obat tersebut.