Arsip Tag: meninggal

makam, tempat jazad bersemayam

image

makam, ada yang mengatakan bahwa itu adalah rumah masa depan. memang benar kalau makam menjadi rumah masa depan, sebab kelak jika kita mati, kita akan dikuburkan, bersama dengan pendahulu kita.
kematian bukan sesuatu yang menakutkan, kematian bukanlah akhir perjalanan kita. Tanpa kematian, kita akan sangat susah bertemu dengan Pencipta kita. Jadi kematian adalah jalan untuk menggapai kehidupan selanjutnya.

Ada tradisi di desaku bahwa setiap orang yang meninggal akan diberi penanda. Setelah 1000 hari kematian mereka, makam akan diberi nisan (bukan mobil Nissan lho, aku aja mau kalau diberi Nissan). Kenapa harus 1000 hari ya? mungkin karena angka 1000 merupakan jumlah yang sangat banyak untuk dihitung. Mungkin juga setelah 1000 hari kayu penyangga makam sudah menjadi tanah. Sebab kebiasaan di tempat kami saat dikebumikan akan dibuat seperti kuda2 di sekeliling liang lahat, nanti setelah mayat dimasukkan, diatasnya akan diberi penutup kayu dan bambu baru ditimbun dengan tanah.
Memang nisan di makam macanan tersebut kebanyakan terbuat dari batu yang besar dengan ornamen yang unik di sekeliling nisan. Inilah alkulturasi budaya hindu dengan islam. Nisan merupakan tanda bahwa saudara kita dimakamkan di sana, bukan sebagai sesuatu yang dikultuskan atau sarana pemujaan yang berlebihan.

image

Jika makam masih baru, seperti makam bapakku, yang meninggal pada tanggal 20 Februari 2012 ini, hanya diberi tanda dengan kayu. Nisan akan diberikan setelah 1000 hari (ada yg punya ide motif nisan?)

Sebuah Keteladanan Modestus suKarsi

Modestus Sukarsi merupakan sosok manusia desa yang mendedikasikan hidupnya untuk Gereja. Ia Berasal dari sebuah dusun di demangan, Ngluwar, Magelang. Ia merupakan orang yang sangat taat pada agama yang dianutnya yaitu Katolik. Meskipun mempunyai kekurangan fisik dalam hal berjalan, tidak menjadikan halangan baginya untuk menemukan Tuhannya. Setiap pagi dia selalu menyempatkan diri untuk mengikuti perayaan Ekaristi Kudus yang sangat jauh dari rumahnya.  Ia akan Selalu mengikuti ekaristi di Gereja Antonius Muntilan yang berjarak lebih kurang 13km dari rumahnya, atau di Gereja Parokinya di Gereja St Theresia Salam, juga tidak kalah jauh. Dengan keterbatasan fisik dia mampu untuk selalu mengikuti Ekaristi Kudus setiap pagi buta, entah dengan cara apapun.

Pernah Suatu saat, salah satu Romo dari Paroki St Theresia Salam, Ditahbiskan menjadi Uskup di tanjung Selor, Kalimantan Timur, Beliau dengan kebulatan tekad sampai juga di Tanjung Selor Kalimantan Timur, hanya untuk mengikuti Misa disana.

Bukan itu saja, Pak Karsi ini juga memilih untuk hidup sendiri, seperti para imam yang tidak mempunyai keluarga (istri dan anak), demikian juga pak Karsi menjalani kehidupannya sebagai awam. Ia sehari-hari hanya menjual kain batik di pintu masuk Pasar Ngluwar, Magelang. Dari sanalah ia menghidupi dirinya sendiri dan laku rohani yang ia  jalani. Salah satu kehebatan Pak Karsi adalah dia ingat betul kapan tokoh Gereja Wilayah itu dilahirkan, dan kapan mereka wafat. Adalah kebiasaan Pak Karsi untuk mendoakan Arwah-Arwah pendahulunya pada peringatan meninggalnya mereka, bahkan mungkin anggota keluarga justru lupa tanggal kematian mereka.

Suatu Hari minggu hampi 3 tahun yang lalu, setelah mengikuti perayaan Ekaristi mingguan di Kapel Sg Timur Ngluwar, Paroki Salam, aku dengan sepeda motorku yang butut pulang, di jalan aku bertemu dengan pak Karsi. Aku berhenti di depannya lalu aku menawari beliau tumpangan, walau hanya sampai depan pasar, dimana pak karsi membuka kios batik kecilnya. Saat diperjalanan, beliau mengatakan hal yang sampai saat ini masih teringat betul di pikiranku.

Beliau mengatakan “Mas Adi, Kalau aku itu sudah siap dipanggil Tuhan. Umapamanya aku mati dan tidak ada orang lain yang tahu, itu bukan masalah bagiku (karena pak karsi hidup sendiri), Toh kalau tetanggaku tahan dengan bau bangkai tubuhku, kalau mereka tidak tahan, ya aku pasti juga dikuburkan”.

Aku tidak memahami maksud sebenarnya, aku cuma mengiyakan saja.  Hari Jumat minggu yang sama, aku mendengar kabar bahwa Pak Karsi Meninggal dunia. Kemungkinan meninggalnya sudah 2-3 hari sebelumnya, karena tetangga ada yang mencium bau busuk dari rumah pak karsi, dan beliau memang tidak kelihatan beberapa hari. Mendengar kabar itu aku teringat kembali perkataan pak Karsi saat memboncengku hari minggu sebelumnya.

Pak Karsi mungkin sudah mendapat firasat bahwa beliau tidak lama lagi akan meninggal, dan bahkan beliau tahu bagaimana Ia akan meninggal, dengan cara yang cukup tragis bagi pemikiran manusia. Tetapi menurut pak Karsi hal itu adalah keindahan baginya. Jarang sekali orang akan Tahu kapan Ia meninggal sehingga ia akan bersiap-siap menghadap Tuhan. Orang akan menganggap kematian adalah hal yang menakutkan, apalagi kalau tahu bahwa ia meninggal tanpa orang yang tahu, pasti akan lebih takut lagi.  Kesiapan hati seorang Modestus Sukarsi patut untuk dicontoh. Ia Menyambut panggilan Tuhan dengan siap hati dan pasrah…

Engkau orang yang hebat pak Karsi….. senang bisa mengenal engkau……

kiranya Engkau mendapat tempat yang terbaik di sisi bapa……..