Arsip Tag: Keuskupan agung semarang

7th Asian Youth Day, kirab Salib AYD sampai di Paroki Salam

Perjalanan salib Asian youth day akhirnya berlabuh di Paroki St Theresia Salam. Kirab salib akan dilaksanakan di 4 kevikepan di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Dimulai dari kevikepan kedu kemudian Kevikepan Semarang, kevikepan Surakarta dan akan berakhir di kevikepan Yogyakarta.

The 7th Asian Youth Day dilaksanakan di Indonesia pada tahun 2017, khususnya di Keuskupan Agung Semarang. Kota Yogyakarta, indonesia akan menjadi tuan rumah The 7th Asian Youth Day yang bertemakan “joyful Asian Youth: Living the Gospel in Multicultural Asia”.

Sebelum dilaksanakan acara itu, salib AYD dikirab di seluruh Paroki di Keuskupan Agung Semarang ini. Pada hari rabu 11 November 2015, Paroki St Theresia Salam menerima Salib dari Paroki St Antonius Muntilan. Dan Dari Paroki ini, perjalanan Salib AYD dilanjutkan menuju Paroki Administratif Emmanuel Ngawen, Muntilan. Pada hari Sabtu 14 November, Salib ini kembali di kirab.  Sebelum dilakukan kirab ke Paroki Ngawen, dilakukan Misa Kaum muda di Gereja St theresia Salam

ADI_8696 DSC_0603 DSC_0607 DSC_0609 DSC_0615 DSC_0616 DSC_0621

Pada Misa Orang Muda ala OMK St Theresia Salam ini, peserta memakai pakaian kesehariannya. Untuk pelajar mereka memakai seragam sekolah, bagi yang sudah bekerja memakai pakaian kerja

ADI_8718 ADI_8733 ADI_8736

Selesai Misa, Salib dikirab ke Paroki Ngawen, Muntilan

ADI_8740 ADI_8745 ADI_8749 ADI_8751 ADI_8753ADI_8759 ADI_8763 ADI_8766 ADI_8770 ADI_8782 ADI_8785 ADI_8786 ADI_8793 ADI_8798 ADI_8799 ADI_8806 ADI_8807 ADI_8812 ADI_8814 ADI_8815 ADI_8830 ADI_8831

Selesai acar dilanjutkan acara makan2

ADI_8835 ADI_8836 ADI_8839 ADI_8840 ADI_8845 ADI_8848 ADI_8860 ADI_8865

Iklan

108 Tahun Peringatan Pembabtisan Pertama di Sendangsono (1)

Perkembangan iman Katolik di Jawa tidak lepas dari sebuah peristiwa besar yang terjadi pada tanggal 14 desember, 108 tahun silam di Sendangsono. Peristiwa besar itu adalah peristiwa pembabtisan pada tanggal 14 December 1904 sebanyak 173 orang dibaptis oleh Pastur van Lith di Semagung, dengan menggunakan air sendhang yang diapit oleh dua pohon sono.  Peristiwa pembabtisan sendangsono ini menjadi tonggak perkembangan iman di daerah yogyakarta dan jawa tengah pada khususnya bahkan di tanah jawa pada umumnya. Muntilan sebagai pusat misi di jawa hampir saja ditutup, Serikat Yesus yang berkarya di muntilan hampir saja menghentikan karya nya di Muntilan, dikarenakan dalam perjalanannya, misi di Muntilan tidak membuahkan hasil, karena tidak adanya pembabtisan baru. Tetapi Karena adanya peristiwa pembabtisan di Sendangsono tersebutlah, karya misi di Muntlan tetap dilanjutkan, dan bahkan dikembangkan sehingga sampai saat ini perkembangan iman Katolik dapat dikembangkan.

ADD_0036

Peristiwa Besar tersebut tidaklah lepas dari sosok Barnabas Sarikromo, seorang pemuda dari desa kajoran yang suka mencari ilmu kanuragan dengan cara bertapa. Hingga pada suatu saat Beliau menderita sakit di kaki yang tidak dapat disembuhkan. Hingga suatu ketika, dalam suatu kesempatan bersamadhi, ayah dari sembilan anak ini meneriima wangsit yang menyuruh mencari kesembuhan kepada orang tinggi besar berpakaian putih. Dalam wangsit juga disebutkan, Sarikromo hendaknya berjalan menuju arah ngalor-ngetan (timur laut). Percaya pada bisikan gaib yang bernada menyuruh tersebut, Sarikromo pun melaksanakannya.
Karena kondisi kakinya yang tidak dapat digunakan untuk berjalan, maka perjalanan yang berjarak tempuh lebih kurang 15 kilometer itu terpaksa dilakukan dengan digendong dan sesekali harus mbrangkang (merangkak) dalam arti kata yang sebenarnya. Ketika perjalanan sampai di Muntilan, Sarikromo melihat seorang Belanda dengan postur tubuh tinggi besar yang mengenakan jubah putih. Naluri Sarikromo mengatakan bahwa itulah orang yang dimaksud dalam wangsit yang diterimanya.
Orang Belanda tersebut tak lain adalah Broeder Kersten, yang dalam karya misi pelayanannya membantu Pastur Van Lith membuka Rumah Sakit di Muntilan. Dengan hati mantap Sarikromo memberanikan diri meminta kesembuhan atas penyakitnya. Selama proses penyembuhan yang mengharuskan sering pulang¬pergi dari desanya ke Muntilan, Sarikromo melihat orang-orang beribadat di Gereja dan mendengar lagu-lagu pujian.
Keinginannya tergugah untuk tahu lebih banyak. Dengan perantaraan Broeder Kersten, Sarikromo dipertemukan dengan Kyai Landa yang memimpin ibadat di Gereja, yang tak lain adalah Pastur Van Lith. Perjumpaan pertama itu disusul dengan perjumpaan-perjumpaan berikutnya. Setelah mendapatkan perawatan dan pengobatan, Sarikromo dinyatakan sembuh dari penyakitnya dan dapat kembali berjalan seperti semula.(1)

Ketika sakit yang dideritanya benar-benar sembuh, Sarikromo pulang ke Kajoran dengan membawa Kitab Suci pemberian Romo Van Lith. Sesampainya di rumah, Sarikromo menceritakan sejarah kesembuhannya dan juga menceritakan ajaran katolik seperti yang diajarkan oleh Romo Van Lith. Tampaknya Suratirto, mertuanya, tertarik. Suratirto lalu mengajak beberapa orang di desanya untuk iktu mendengarkan ajaran agama katolik yang diberikan oleh Sarikromo. Memang pada saat itu, Suratirto adalah seorang pamong di Dusun Kajoran.

Dari hari ke hari semakin banyak orang yang datang ke rumah Sarikromo di Kajoran. Tidak hanya orang-orang di Kajoran. Orang-orang dari luar Kajoran, misalnya Tuksanga dan Semagung, juga datang mengerubungi Sarikromo. Memang harus disadari bahwa orang-orang ini tidak pertama-tama untuk mendengarkan ajaran agama katolik dari Sarikromo. Pertama-tama  mereka ingin membuktikan apakah benar bahwa sakit yang diderita oleh Sarikromo sudah sembuh. Oleh karena itu, Sarikromo selalu menceritakan bagaimana Rm Van Lith mengobati lukanya. Sarikromo juga menceritakan bahwa sakit yang dideritanya itu sembuh karena doa-doa Rm Van Lith kepada Yesus Kristus. Dan dari sinilah, Sarikromo bercerita mengenai Kristus dan bagaimana ia mengikuti-Nya ( 2).

peristiwa itu menjadi salah satu fragmen sendratari yang ditampilkan saat peringatan 108 tahun pembabtisan pertama sendang sono. Peringatan tersebut diawali dengan penampilan dari grup musik Wiridan Sarikraman

ADD_0015

ADD_0032

DSC_6357

lalu dilanjutkan dengan sendratari berjudul “Begawan Ngelmu Sejati” dr OMK Pakem yang Menceritakan perjalanan hidup Barnabas Sarikrama.

ADD_0064 ADD_0072 ADD_0080 ADD_0102 ADD_0105 ADD_0111 ADD_0116 ADD_0117 ADD_0121 ADD_0128 ADD_0136 ADD_0138 ADD_0152 ADD_0167 ADD_0188 ADD_0201 ADD_0208 ADD_0213 ADD_0221 ADD_0224 ADD_0236 ADD_0238 ADD_0246 ADD_0268

Sumber:

1 http://www.borobudurlinks.com/2010/03/barnabas-sarikromo-katekis-pertama-di.html

2

Perayaan Ekaristi Tahun Baru Jawa 1 Suro 1946

Hari ini tanggal 15 november 2012 merupakan hari yang tidak biasa, hari ini merupakan tanggal 1 Suro 1946 (tahun baru jawa) atau merupakan tahun baru muharam. Tanggal 1 suro sering dianggap sebagai salah satu hari yang wingit atau sering bernuansa mistis. pada 1 suro, digunakan untuk melakukan berbagai macam “lelaku” maupun waktu yang baik untuk melakukan jamasan senjata pustaka.

Malam 1 suro tahun ini menjadi malam yang tidak biasa bagi umat di Paroki St Theresia salam, inilah pertama kalinya dilakukan misa 1 suro. Misa 1 Suro mungkin masih dianggap aneh dan jarang dilakukan, misa ini seperti misa tahun baru nasional maupun misa imlek bagi teman-teman tionghoa. Malam ini merupakan tahun baru Jawa, perayaan yang dimaknai syukur atas tahun yang telah boleh dilalui bersama. misa 1 suro ini digelar dengan cukup meriah dengan adat jawa, dengan diiringi gendhing jawa dan peraga maupun umat banyak yang mengenakan pakaian adat jawa.fragmen misa 1 suro

Misa 1 suro ini diawali dengan sebuah fragmen sederhana. Diawali dengan tokoh punokawan yang merupakan sosok yang mencerminkan sifat hidup manusia, mengantar umat untuk menyiapkan diri merayakan ekaristi. Sebelum Ekaristi Kudus ini dimulai, hujan begitu lebat seolah ingin menumpahkan seluruh air ke bumi. Karena begitu lebatnya hujan yang turun di sekitar pendapa Bunda Maria Penolong paroki St Theresia salam ini, mengakibatkan tenda umat sampai patah karena tidak kuat menahan air yang turun.

tenda roboh

Meskipun membuat umat yang berada dibawah tenda kalang kabut tetapi hal itu tidak menyurutkan umat untuk mengikuti perayaan Ekaristi 1 suro ini. Karena tenda roboh, mengakibatkan ekaristi harus digelar di 2 tempat yaitu di dalam Gereja dan di pendapa Maria Bunda Penolong.

pendapa Maria bunda Penolong

umat

putra altarpengrawit

Perayaan Ekaristi ini dipimpin oleh Rm Lambertus Issri,

pendapa Maria Bunda Penolong

rm lambertus Issri Seperti bacaan pada hai ini ketika Sepuluh orang kusta yang berada di desa perbatasan Galilea dan Samaria, suatu hari bertemu Yesus lalu berteriak meminta belas kasihan. Menanggapi permintaan tersebut maka Yesus memerintahkan mereka pergi menunjukkan diri kepada para imam agar dilihat apakah sudah tahir dari kusta. Dalam perjalanan kesepuluh orang kusta tersebut ternyata tubuh mereka menjadi tahir. Hanya seorang dari mereka yang kembali kepada Yesus untuk bersyukur atas kesembuhannya. Ia adalah seorang Samaria.

penyakit Kusta merupakan penyakit yang sangat kotor, orang yang menderita kusta akan diasingkan dan dijauhkan dari masyarakat, karena mereka dianggap bukan hanya badannya yang kotor tetapi hati mereka juga kotor. Mereka oleh Yesus tidak disuruh untuk pergi ke tabib atau ke dokter, melainkan menyuruh mereka untuk pergi ke Imam agar mereka  ditahirkan dari kusta. perayaan 1 suro juga dapat dimaknai sebagai proses pentahiran dari dosa menuju manusia yang lebih baik. Tahun baru ini diharapkan menjadi tahun yang lebih baik dari tahun yang kemarin, yang dianggap sebagai tahun yang tidak baik.

Tubuh darah Kristus

Pada akhir Perayaan ekaristi ini dilakukan pemercikan air Suci disertai bunga melati, seperti halnya jamasan senjata pusaka. Jamasan berarti memandikan, mensucikan, membersihkan, merawat dan memelihara. Pemercikan Air Suci untuk menyucikan tubuh dan jiwa manusia yang selama ini sering jatuh dalam Dosa.

pemerkatan air suci

pemercikan air suci

pemercikan air suci