Arsip Tag: karinakas

Difabel.3.. Kisah Pak Joko

          Tidak Ada yang aneh bagi lelaki paruh baya ini, sekilas lelaki ini tampak normal dan gagah, Begitulah sosok yang dikenal dengan nama Pak joko ini. Memang lelaki yang yang hidup di selatan kota Bantul, Yogyakarta, lebih tepatnya di kecamatan Bambanglipuro ini  mempunyai perawakan yang biasa, tetapi dibalik itu sbenarnya ia adalah seorang difabel, Beliau menderita Polio sejak Usia 3 tahun.  Penyakit itu membuat pertumbuhan salah satu tangan dan kakinya tidak seperti tangan yang lain. Tangan kirinya lebih kecil dari tangan kanan.

           Beliau bercerita bahwa Ia tidak merasa ada hambatan dengan perbedaan itu, Setelah menamatkan sekolah, ia baru merasakan bahwa perbedaan itu membawa sedikit masalah dalam pekerjaannya.  Ia Sehari-hari memelihara itik dalam bahasa jawanya “angon bebek”. Pernah Beliau bekerja sebagai pembantu tukang bangunan, tetapi keterbatasan fisiknya lah yang membuat pak joko ini merasa berat untuk melaukan pekerjaan fisik. “kalau angon bebek sih masih bisa, meskipun kaki saya ini yang satu lebih kecil dari yang lain, tetapi kalau buat lari masih bisa” tutur pak Joko.

           Sekarang pak joko ini sedang mengembangkan usaha barunya yaitu menetaskan telur itik.  Usaha yang ditekuni beberapa bulan terakhir. beliaua mengatakan kalau telur itik di jual kan cuma Rp1500,- sedangkan kalau ditetaskan bisa mencapai Rp 3500,- untuk yang jantan dan Rp5000,- untuk yang betina perekornya. Jika menetaskan  sekitar 150 telur kan sekitar 500 rb perbulan bisa ditangan, tambah beliau.

Sosok lelaki yang rambutnya sudah beruban ini  mempunyai ternak itik juga yang akan menjamin supply telur yang ada embrionya, karena di ternaknya diberi beberapa pejantan yang akan menjamin telurnya tersebut terbuahi. Jika mengambil telur dari luar belum tentu akan mempunyai embrio semua,karena biasanya pejantan hanya 1 atau 2 ekor saja.

                    biasanya beliau sudah dapat tahu dalam 24 jam setelah dimasukkan kedalam alat pemanas, telur mana saja yang akan dapat menghasilkan itik, jika tidak telur tersebuat akan dijual , jadi tidak ada yang tebuang percuma.

           saat ini beliau mempunyai 2 alat penetasan itik sendiri, dan bercita-cita ingin punya 10 alat penetas, sehingga panen bisa cepat dan income yang didapat bisa lebih cepat.  Saat ini  sudah ada perusahaan yang bersedia menampung hasil penetasan itik dari pak Joko ini berapapun yang dihasilkan… hmmm luar biasa, oh iya ini satu-satunya penetas telur di desanya lho….

          Nanti kalau laku dijual, uangnya untuk makan sehari-hari dan sisanya untuk membuat alat penetas lagi. Ternyata alat penetas itu adalah buatannya sendiri, beliau belajar membuat alat penetas dengan cara mencontek alat penetas milik temannya. Ada dua lagi alat penetas yang hampir jadi di rumahnya, cuma tinggal menunggu thermostat untuk menjada suhu konstan. Uang sebelumnya ia pergunakan untuk menaikkan daya listrik di rumahnya dulu.

          Memang sosok pria yang luar biasa, ditengah keterbatasan yang ia miliki justru ada ketidakbatasan dalam hal kreatifitas dan ide serta semangat yang luarbiasa. Meskipun Ia adalah difabel, tetapi mampu berkarya seperti orang normal, mungkin lebih. Beliau mampu membuat alat penetas telur hanya dengan melihat contoh dan tidak belajr teori dahulu.

          Akhirnya waktu jualah yang memaksa kami untuk berhenti menggali informasi dari beliau. Kami harus melanjutkan kegiatan kami, dan terima kasih sudah berkenalan dengan pak Joko, sosok yang inspiratif bagiku

Iklan

semiloka Difabel… 2

          Paradigma telah berubah, penghalusan kata, perubahan pemimpin, negara sudah mulai peduli, itulah ungkapan yang dilontarkan teman-teman saat menanggapi perubahan kata dari penderita cacat ke penyandang cacat lalu berubah lagi menjadi difabel. banyak hal yang diungkapakn teman-teman bagi difabel.

          

Apa sih difabel itu??

kalau dari bahasa inggri  adanya Disable… difabel sendiri merupakan adaptasi dari bahasa inggris yaitu different dan kata ability, yang artinya mempunyai kemampuan yang berbeda.

Klasifikasi Internasional Penurunan, Cacat dan Handicaps (ICIDH), menyediakan sebuah kerangka kerja konseptual untuk cacat yang digambarkan dalam tiga dimensi-gangguan cacat, dan cacat:

Penurunan (Impairment): Dalam konteks pengalaman penurunan kesehatan adalah setiap kehilangan atau  kelainan psikologis, struktur fisiologis atau anatomi atau fungsi. Penurunan isconsidered terjadi pada tingkat organ atau fungsi sistem. Cacat ini berkaitan dengan kinerja fungsional atau aktivitas, mempengaruhi seluruh orang.

Cacat (disability): Dalam konteks pengalaman kesehatan cacat adalah setiap pembatasan atau kekurangan (akibat dari penurunan sebuah) kemampuan untuk melakukan suatu kegiatan dengan cara atau dalam kisaran dianggap normal untuk manusia.

Handicap: Dalam konteks pengalaman kesehatan cacat merupakan kerugian bagi individu tertentu, akibat dari kekurangan atau cacat, yang membatasi atau mencegah pemenuhan peranan yang normal (tergantung pada usia, jenis kelamin, dan faktor sosial dan budaya ) untuk individu tersebut.

UU No. 4/1997 tentang Penyandang Cacat: Penyandang cacat adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan hambatan baginya untuk melakukan kegiatan secara selayaknya.

UU No.19 TAHUN 2011  Tentang pengesahan CRPD, yang kemudian diturunkan dalam UU tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas: Penyandang disabilitas adalah mereka yang mempunyai kelainan fisik, mental dan intelektual, atau sensorik secara permanen yang dalam interaksinya dengan berbagai hambatan dapat merintangi partisipasi mereka dalam masyarakat  secara penuh dan efektif berdasarkan pada asas kesetaraan dengan orang lain.

Difabel; Kata ini diharapkan mampu merubah image yang selama ini dilekatkan pada penyandang cacat. Selain itu kata Difabel juga diharapkan menjadi titik awal (starting point) bagi para penyandang cacat untuk memperjuangkan kesetaraan dalam kehidupan bermasyarakat.

Cara pandang terhadap difabel telah berevolusi sejak 3 dekade terakhir, dimulai dengan Moral Model; Medical model; Civil right Model; dan social Model. Moral model merupakan cara pandang lama, yang menganggap disabilitas merupakan sebuah karma dan merupakan balasan dari dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya.

           Pada Medical Model, Memandang difabel sebagai orang sakit.Model ini mendefinisikan difabel sebagai sebuah kelemahan fisik dan mental. Tenaga medis adalah kelompok yang memiliki kekuasaan dalam menentukan keputusan dan kebijakan atas hidup difabel.
Civil Right Model Memandang difabel sebagai individu yang setara dengan masyarakat lain.Dalam model ini, masalah dasar difabel adalah diskriminasi, prejudice (prasangka), dan pengingkaran terhadap hak dasarnya.
Sedangkan Social model Model ini melihat difabel sebagai persoalan sosial yang menyangkut masalah sistem ekonomi, kebijakan, dan prioritas terhadap distribusi sumberdaya, soal kemiskinan, pengangguran, budaya, Masalah dasar yang dihadapi dalam model ini adalah rendahnya pengakuan atau penerimaan masyarakat terhadap keberadaan difabel sebagai bagian integral dari kehidupan masyarakat.

Selain itu masyarakat juga memiliki kesadaran terhadap eksistensi terkait difabel antara lain adalah kesdaran magis (berdasarkan hukum alam), Kesadaran Naif (manusia sebagai akar masalah) dan kesadaran Kritis (sebagai korban dari struktur sosial budaya).

 

Sumber: Yanuar,A., 2012, Difabel, pada semiloka  RBM sebagai sebuah strategi pemberdayaan Difabel, KARINAKAS, Yogyakarta

semiloka Difabel… 1

          Suatu hari aku ditelpon oleh temanku, namanya Pram, seorang guru komputer di SMP 2 Muntilan,  intinya aku disuruh untuk mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh KARINAKAS, sebuah lembaga caritas milik keuskupan Agung  Semarang.  Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari mulai tanggal 23-25 juli di lereng merapi, dibawah kaliurang.

           Aku disuruh mengikuti kegiatan tersebut bersama seorang yang lain dari Paroki Salam. Tapi aku belum tahu siapa belaiau yang bersama-sama mengikuti kegiatan ini. Sebelum hari H, aku disuruh datang ke tempat Pram untuk mengambil data umat yang mengalami cacat, jika sewaktu-waktu itu menjadi penting dalam kegiatan itu.  Setelah hari H, aku berangkat sendiri dengan ketidakpastian siapa yang bersama-sama mengikuti kegiatan itu. Sesampai di lokasi, ternyata ada dua orang dari Parokiku. tapi aku juga belum kenal. untung salah satu panitia dari karina, aku sudah kenal. huh untung masih ada yang kukenal.

           Kegiatan itu tentang RBM atau yang lebih kerennya adalah CBR (Community Based Rehabilitation) ata rehabilitasi berdayaguna Masyarakat bagi teman-teman Difabel.  Aku juga bingung saat sesi acara dimulai.  Yang kuharap adalah aku bisa ikut acara itu sampai tuntas, karena keesokan harinya, ada Yudisium Apt di kampus, dari rumah aku sudah berniat mau turun gunung, berangkat ke kampus untuk melihat Yudisium, dan adanya penjelasan tentang STRA (surat tanda registrasi Apoteker).

           Saat acara dimulai, ternyata keesokan harinya ada agenda ke daerah Bantul, untuk bertatap muka dengan difabel, binaan Karina. Wah pikirku.. aku harus ikut acara ini atau aku harus ke kampus. Bingung sampai sore itu. Saat istirahat makan aku menyempatkan diri untuk sms temanku, sistri. Kata Sis nggak datang juga nggak apa, kan di group FB cm dibilag diharapkan datang…. Akhirnya kuputuskan aku ikut acara ini dan ke kampus bisa ku cancel, padahl sudah bawa batik buat ke kampus… hahahaha

          Pagi-pagi aku tetap ikut acara Karina dan melupakan Yudisiumku… Kalo nggak lulus gmana? ku sms lagi Sistriyanto, kalo ada apa2 tentang Yudisium tolong aku dikasih tahu. Mental harus siap jika tidak lulus.  Kegiatan di Bantul kuikuti dan tiba-tiba ada sms dari Sistri.. Di IPK mu 3.45…. huh.. pasti si Sistri cumlaude nih, dan ternyata benar….nggak apa-apa yang penting lulus, pikirku. hahahahaha

           Setelah tahu aku lulus, akupun tenang dalam mengikuti acara ini. dan semoga bisa selesai.