Arsip Tag: bruthea

Merayakan tahun baru ala jalanan yogya

Pergantian tahun merupakan momen yang ditunggu, karena bukan saja tahun yang berganti, resolusi baru, semangat yang harus baru, tetapi juga pesta yang biasanya menyertai perayaan pergantian tahun. Pesta kembang api salah satu magnet yang masih dicari orang setiap pergantian tahun.

Dikota2 besar tak terkecuali kota pelajar, yogyakarta tidak lepas dari euforia pesta pergantian tahun dan kembang apinya. Yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat ada di berbagai tempat, salah satunya di kawasan tugu yogyakarta.

Kawasan tugu yogya yang merupakan salah satu ikon kota gudeg ini menjadi salah satu magnet warga yogyakarta untuk melewati pergantian tahun

Warga sejak sore sudah berdatangan ke tempat ini. Mulai malam mulai ramai dan makin padat dengan warga. Sambil menunggu waktu pergantian tahun, mereka memenuhi sekeliling tugu dengan duduk di tengah jalan. Jalan yang biasanya padat dengan kendaraan, malam ini penuh dengan warga.

Menjelang detik detik pergantian tahun, kembang api mulai menerangi malam di atas kawasan tugu yogya ini.

Hotel 2 di kawasan yogya juga tidak kalah untuk menampilkan acara perpisahan tahun 2017 dengan berbagai event dan acara. Tidak heran jika harga hotel naik tajam saat pergantian tahun. Sayang rasanya menghabiskan uang untuk menikmati pergantian tahun. Tapi tenang, kita masih bisa menikmati itu tanpa keluar banyak duit (paling parkir dan jajan) dengan cara menikmatinya d tengah jalan yogyakarta. Salah satunya kembang api dari salah satu hotel sekitar tugu, bisa kita nikmati jauh lebih luar biasa dengan adanya tugu yogya dan kembang api sebagai latarnya ( background). Coba kalau dr hotel itu? Tugu yogyanya gak kelihatan.

Tahun sudah berganti, pesta sudah usai, tinggal kita menghadapi hari esok d tahun 2018. Selamat tahun baru, happy new year 2018

Cuplikan kembang api saat pergantian tahun di tugu yogya

kembang api di tugu yogya 2018

Menikah dengan gaya basahan kraton ngayogyakarta hadiningrat

itulah sepenggal wedding clip kami saat melangsungkan pernikahan.
Menikah merupakan satu step yang harus dilalui setelah kami menjalani masa pacaran yang bisa dibilang cukup lama, lebih kurang 4 tahun lebih. Banyak hal yang dilewati, memahami satu sama lain yang menjadi rintangan terbesar.

Menyatukan dua hati dan dua kepala memang tidaklah mudah, kadang kala tidak bisa selaras, tidak bisa setujuan.

Begitu juga pernikahan yang kami rancang juga tidak berjalan semulus seperti rencana yang kami mau. Ketika kami melangkah sendiri banyak hal yang tidak kami mengerti, banyak hal yang ada d luar kemampuan kami. Kami hanya menginginkan semua orang bisa merasakan bahagia.

Pertama yang dilakukan kebanyakan orang jawa adalah menentukan hari baik baru mencari yang lain seperti gedung. Tetapi kebalikan bagi kami, kami mencoba mencari gedung, setelah dapan baru tanggal sesuai gedung. Memang janggal, tetapi bagi kami semua tanggal dan hari adalah baik adanya.

Rencana manusia bukanlah rencana Tuhan, seperti itu yang kami rasakan. Kami sudah booking sebuah gedung bergaya jawa d daerah jombor, ya kami memilih gedung itu karena konsep pernikahan kami adalah modern saat janji perkawinan d gereja dan adat jawa pas resepai.

Tanggal sudah ditentukan pada sekitar pertengahan januari 2017 silam, dp sudah dibayar. Tanggal sudah diumumkan pas pertunangan kami. Tetapi kiranya rencana Tuhan lebih indah. Setelah berjalan beberapa saat, rencana itu berubah. Ternyata gedung yang kami inginkan tidak bisa mendatangkan catering dari luar (kalau dari luar hrs tambah fee), harus tambah tenda dan lain hal.

Bulik yang kebetulan saat itu kami mohon bantuannya mengenai pernikahan kami menjadi malaikat penolong, dengan memberikan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk tidak ambil gedung itu.

Tuhan juga tidak akan lepas tangan begitu saja terhadap kami, ternyata di Grha Sabha Pramana UGM masih ada hari lowong, pas hari raya imlek belum ada yang booking, tapi konsekuensinya tanggal nikah kami mundur seminggu. Tidak apalah yang penting bisa dapat gedung. Maka diputuskan kami menikah d GSP ugm yogyakarta memakai adat jawa basahan Prosesi dimulai dengan panggih, sang mempelai wanita yang sudah ada di dalam gedung akan dipertemukan dengan p3ngantin pria. Sebelum itu utusan pengantin pria membawa pisang sanggan utuk diberikan kepada keluarga mempelai wanita Kemudian dilakukan acara panggih Setelah itu saling melemparkan daun sirih Mempelai perempuan membasuh kaki mempelai laki laki Jika di daerah lain telur akan diinjak oleh mempelai lakilaki, pada prosesi yang kami lakukan, telur akan dipecahkan terakhir. Sebelum kami naik ke pelaminan, ada satu tradisi unik yaitu edan-edanan, edan dalam bahasa indonesia artinya gila. Edan-edanan merupakan tarian untuk penolak bala dengan dilakukan sepasang penari dengan gerakan tarian seperti orang gila, didukung juga dengan tatarias dan busana.

IMG_9855

IMG_(123)[1]

IMG_7820[1]

IMG_9869[1].jpg

setelah prosesi kirab kedua mempelai ke atas pelaminan disertai dengan tarian edan-edanan, prosesi selanjutnya adalah kacar-kucur, dimana merupakan simbol sang mempelai laki-laki memberikan nafkah kepada istrinya. dan oleh sang mempelai perempuan, bungkusan yang diberikan oleh suaminya akan ditunjukkan kepada kedua orang tuanya

IMG_9875[1]

IMG_9878

IMG_9881

IMG_9883

IMG_7849[1]

prosesi dilanjutkan dengan sungkeman, memohon doa kepada kedua orang tua yang telah membesarkan dan merawat kami berdua

IMG_(148)[1].jpg

IMG_7854

setelah semua proses dijalani, dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Itulah sekelumit cerita pernikahan kami dengan memakai adat jawa. Banyak hal yang mungkin tidak kami lakukan dalam prosesi, tetapi kami bersyukur bisa mengikuti adat seperti yang kami mau.

menikmati suasana air terjun jumog

Sudah berapa tahun ya tidak mengunjungi air terjun jumog. Dulu terakhir kali sewaktu ada Makrab FSI 2004 Farmasi UGM, bareng dengan teman2 sekelas. Ya karena penasaran dengan suasana di air terjun ini, kemarin menyempatkan sejenak menikmati air tejun ini.

Karena ingatnya pas Makrab dulu maka jalan yang dilalui pun sama seperti dulu. Parkir di atas lalu menuruni ratusan anak tangga baru sampai di air terjun.

ternyata eh ternyata… sampai di bawah terlihat ada parkiran motor dan mobil… yah, itung-itung olahraga.

Sampai di bawah suasana yang berbeda menyambutku, meski tanaman Paku-pakuaan yang masih tumbuh baik menyambut sesampainya di air terjun, tetapi suasany sangat berbeda. Sekarang banyak warung makan yang menyediakan lesehan di sepanjang aliran sungai di bawah air terjun

DSC_1182DSC_1218DSC_1229DSC_1239DSC_1248

Dapat tempat makan yang bagus buat narsis, dipinggi aliran sungai, dibawah rindangnya pohon paku

DCIM101MEDIA
DCIM101MEDIA
DCIM101MEDIA
DCIM101MEDIA

main ke Candi cetho

Candi cetho merupakan salah satu candi yang bercorak hindu yang berada di lereng sebelah barat gunung lawu, tepatnya di karanganyar jawatengah. Perjalanan menuju ke candi tersebut cukup mudah karena akses jalan yang sudah lumayan baik. dari arah kota karanganyar melewati jalan ke arah tawangmangu.

Candi cetho searah dengan candi sukuh dan air terjun jumog. Jadi perjalanan wisata kali ini dilakukan dengan mengunjungi salah satu destinasi di ujung timur jawa tengah ini

DCIM101MEDIA
candi cetho

DCIM101MEDIA

 

O iya seperti kebanyakan candi di jateng-DIY sekarang para wisatawan memakai kain sarung, ya mungkin untuk menghormati juga candi yang juga masih sebagai tempat pemujaan.

Di halaman teras kedua terdapat susunan batu yang terhampar di halaman, membentuk gambar seekor garuda terbang dengan sayap membentang. Di punggung garuda terdapat susunan batu yang menggambarkan seekor kura-kura. Tepat di atas kepala garuda terdapat susunan batu berbentuk matahari bersinar, segitiga sama kaki dan Kalacakra (kelamin laki-laki). Di ujung masing-masing sayap garuda terdapat dua bentuk matahari lain.

Garuda adalah burung kendaraan Wisnu yang yang melambangkan dunia atas, sedangkan kura-kura yang merupakan titisan Wisnu merupakan simbol dunia bawah. Kura-kura dianggap binatang sakti yang mampu menyelami samudera untuk mendapatkan air kehidupan (tirta amerta).

DSC_0995DSC_1006DSC_1013DSC_1021DSC_1027DSC_1029DSC_1049DSC_1060DSC_1063

candi cetho mempunyai beberapa teras, seperti gambar garuda dan kura-kura yang berada di teras kedua. Di teras lrbih atas  terdapat bangunan yang beratap. tapi fungsi dan gunanya belum disearching. yang penting jalan2 dulu aja setelah beberapa bulan pakai tongkat, sekarang free. O iya pas mengunjungi candi ini serasa berada dibali karena pemugaran yang dilakukan membuat candi ini serasa di Bali dengan gapura yang menjulang tinggi di depan candi buatan jaman majapahit tersebut.

DSC_0967DSC_0970DSC_0975

Perjalanan di Bali, hari ketiga

Setalah hari kedua, perjalanana ke Tirta gangga dan besakih kami lakukan, hari ketiga perjalanan kami lanjutkan. Oiya untuk hari ketiga rute yang kami tuju adalah ke bagian selatan Pulau Bali ini, yaitu GWK (Garuda Wisnu Kencana) dan Uluwatu. Setelah itu menuju pantai Sanur dan Pasar Sukowati.

Tujuan kami pertama adalah GWK

ADI_4475 ADI_4490 ADI_4522 ADI_4525 ADI_4531 ADI_4537 ADI_4541 ADI_4564 ADI_4569 ADI_4570 ADI_4575 ADI_4581 ADI_4585 ADI_4595 ADI_4603 DSC_6966 DSC_6973 DSC_6974 DSC_6997 DSC_7000 DSC_7001

pada jam-jam tertentu di GWK terdapat pertunjukan tari yang dapat kita tonton. Setelah itu kita bisa berfoto dengan para penarinya.

Setelah berpanas ria di GWK, perjalanan dilanjutkan ke Pura Uluwatu

ADI_4631 ADI_4632 ADI_4668 ADI_4672

hmm Siang itu di Uluwatu begitu menyengat. Beberapa kali kami harus beristirahat karena kepanasan dan kehausan. Setelah dari Uluwatu, perjalanan kami lanjutkan ke sanur dengan melewati tol di atas laut yang baru di Pulau Dewata itu.

 

Perjalanan di Bali…. hari ke dua

Setelah hari pertama menikmati sunset di pantai kuta, hari  kedua dilewatkan dengan mengunjungi beberapa tempat, meskipun hari sebelumnya bingung mau menentukan destinasi wisata ke mana. Pada Profil Pic di BBM yang menyewakan motor terdapat sebuah tempat yang cukup menarik. Setelah seardch semalaman ternyata didapatkan tempat itu adalah Tirta gangga, sebuah tempat wisata air peninggalan kerajaan karangasem di Bali.

Searching lokasi pun dimulai menggunakan google map dan diketemukan bahwa lokasi tersebut berada di kota amlapura, kota sebelah timur pulau dewata ini. Pada peta tertulis jarak dari tempat kami menginap sekitar 70an KM. Jauh juga ternyata…….

Setelah mandi dan sarapan bubur dan popm*e, akhirnya petualangan kami mulai hari ini. Dengan menyusuri Jalur sepanjang pantai selatan Bali ke arah timur, kami menyusuri jalan menuju amlapura. Di tengah jalan memang ada tanda menuju Amlapura 70KM…..

ADI_4285

Perjalanan kami nikmati dengan sesekali berhenti di pinggir jalan untuk mengambil beberapa gambar (narsis tetep). Ditengah Jalan ada seorang bule bertanya tentang arah Candidasa, meskipun tidak tahu dimana itu, ku beritahu bahwa jalannya seudah benar.  Hmmm emang apa sih candi dasa itu? masih belum tahu.  Setelah beberapa jauh meninggalkan Kota Denpasar, ada sebuah penunjuk Jalan bahwa kami memasuki kawasan Candi Dasa, dan kami menemukan sebuah pantai yang cukup bagus untuk berfoto ria

ADI_4287 ADI_4301 ADI_4298 ADI_4302 ADI_4304 ADI_4305

Setelah puas berfoto di Pantai candi dasa, kami melanjutkan perjalanan kembali karena hari sudah beranjak siang, padahal tempat yang kami tuju masih jauh. Eh, ternyata di tengah perjalanan kami  bertemu sebuah kolam penuh dengan teratai, ya sudah kami kembali berhenti dan berfoto lagi

ADI_4314 ADI_4333 ADI_4332 ADI_4333

Tak berapa lama, Kota Amlapura sudah di depan mata. HP kembali di buka untuk mencari peta ke arah Tirta Gangga. Ternyata tempatnya berada disebelah utara kota ini dan berada  dipinggir jalan. Tiket masuknya sangat murah hanya 10rb perorang dan tempatnya cukup indah untuk dinikmati. Hmmm Banyak Turis asing yang data dan hanya beberapa turis lokal, itupun mereka datang untuk mandi di kompleks taman air ini

ADI_4339 ADI_4343 ADI_4344 ADI_4356 ADI_4369 ADI_4374 ADI_4379 ADI_4380 ADI_4384 ADI_4389

Setelah Puas menikmati taman air Tirta Gangga, Kami melanjutkan ke destinasi kedua yaitu Pura Besakih. Ditemgah Jalanpun kami bertemu dengan rombongan yang akan melakukan upacara adat

ADI_4390 ADI_4391 ADI_4392

Sungguh menyenangkan perjalanan di Bali, tetapi pada saat mengambil gambar tersebut ada peralatan tersebut yang jatuh dan daru tersadar saat di Besakih. Setelah berhenti sejenak mengabadikan acara tersebut, perjalanan ke Besakih kami lanjutkan. Dengan melewati rute pegunungan dan jalan yang berkelok membuat perjalanan terasa lama dan jauh.

Sesampai di Pura Agung Besakih, kami membayar tiket masuk 10rb per orang. Sesampai di Gerbang, ada pemuda yang mengharuskan memakai guide dengan biaya yang luar biasa. Untuk berkeliling ditarik biaya 200rb. Hah mahal amat ya, karena kami juga tidak punya banyak uang akhirnya dinego bisa 50rb. O iya kalau disana banyak yang seperti ini kayaknya dan memang sudah terorganisir dengan membebani dengan tarif yang Mahal. katanya itu karena mereka tidak digaji dan banyak personel serta untuk pembangunan. haduh.

Dengan membayar 50 rb kami dipesan agar nanti gak usah pakai sarung, karena harus bayar lagi. Dan banyak anak kecil yang berdagang dengan sedikit memaksa dan sepertinya mereka dilatih ngomongnya seperti itu (kayak hafalan deh)

Lah disini kami sadar kalau wireless remote kami hilang, sehingga foto2 hanya pakai remote Infra red

ADI_4394 ADI_4395 ADI_4396 ADI_4398 ADI_4399 ADI_4401 ADI_4403 ADI_4422 ADI_4428 ADI_4429 ADI_4431 ADI_4432 ADI_4440 ADI_4442 ADI_4443 ADI_4444

Setelah ke pura agung Besakih, kami pulang ke Denpasar, ke penginapan. O iya sebelumnya kami masih mencari remote yang hilang dan hasilnya nihil… 😦

 

Perjalanan di Bali, hari pertama

 

Pagi Itu udara cukup cerah selama perjalanan dari bandara Adisutjipto Yogyakarta hingga bandara Ngurah Rai Denpasar Bali. Perjalanan diudara ditempuh selama 1 jam 15 menit, dan sampai di Bali menunjukkan waktu 10.00 WITA pagi, lebih cepat dari waktu di Jogja yang masih menunjukkan jam 9.00WIB

Sampai di bandara, Motor sudah menanti diluar area parkir bandara. Memang motor sudah dipesan untuk diantar ke bandara untuk menghemat biaya taksi menuju penginapan.

GPS tidak akurat. huh itu yang membuat kami harus berputar2 setengah jam untuk sampai di penginapan, bahkan nyasar sampai ke kuburan. haduh.

Hari pertama yang dikunjungi adalah pantai Kuta dan legian. Menikmati matahari terbenam di pantai Kuta ditemani bule2 yang berjemur cukup mengasyikkan. dan malamnya menikmati hidupnya dunia malam di jalan Legian

ADI_4197 ADI_4203 ADI_4207 ADI_4215 ADI_4245 ADI_4265 ADI_4275 DSC_6907 DSC_6909 DSC_6912 DSC_6914 DSC_6917 DSC_6921 DSC_6924