Arsip Kategori: tradisi dalam cerita

Magelang juga punya night carnival

wah ternyata ada file yang belum ku buka… night carnivalnya orang magelang, di jogja sudah ada jogja night carnival, di solo sudah ada juga Solo Batik Carnival… ternyata di magelang juga ada lho… meskipun nggak semeriah di solo atau di jogja, tapi inilah wujud kreativitas orang magelang.

Pawai ini dilaksanakan tanggal 21 April 2012 sepanjang rute jalan utama magelang. karena kesibukan PKL di apotek jadi baru sempat upload… tema umumnya mungkin 9 naga ya… banyak banget barongsai china. mungkin tahun depan temanya bisa lebih diperjelas dan lebih dibuat unik seperti di solo yang punya beberapa panggung kehormatan, kemarin itu penonton yang cukup banyak membuat susah untuk bisa menikmati pertunjukan-pertunjukan peserta pawai.

ini beberapa fotonya:

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Iklan

candra sengkala tahun jawa 1945 wawu

Sejak Tanggal 27 november 2011 Tahun Masehi, merupakan tahun baru untuk tahun hijriyah dan juga tahun baru jawa dengan diawali tanggal 1 suro.

berbagai orang dalam tradisi jawa sangat mengkultuskan tanggal 1 suro. Berbagai laku dijalani oleh banyak orang yang masih memegang “kejawen” mereka. Seperti juga terjadi di keraton Surakarta, pada malam 1 suro, juga diadakan jamasan senjata pusaka keraton arak-arakan kerbau Kyai Slamet. Banyak yang percaya bahwa kotoran kerbau Kyai Slamet akan membawa banyak berkah untuk kesuburan tanah, sehingga tidak heran banyak orang yang berebut kotoran untuk di bawa pulang.

Tetapi tahukah bahwa ternyata untuk tahun jawa, sekarang telah memasuki tahun 1945 wawu. Berarti Tahun jawa lebih tua dari tahun Hijriyah yang baru memasuku Tahun 1433H. Kalender Jawa juga mengikuti perputaran bulan seperti halnya tahun hijriyah. Orang jawa mempunyai tradisi untuk membuat tahun jawa yang ada menjadi sebuah tulisan yang dikenal dengan candra sengkala. Candrasengkala adalah sengkalan yang menunjukkan angka tahun berdasarkan peraturan bulan. Sengkalan Candrasengkala digunakan setelah masa Islam dengan memakai tahun Jawa. Tahun Jawa ditetapkan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma sejak 1 Suro 1555 Jawa, bertepatan 1 Muharam 1043 Hijriah, atau 1 Srawana 1555 Saka, atau 8 Juli 1633 Masehi. Tahun Jawa merupakan perpaduan antara Tahun Hijriah dengan tahun Saka.

Biasanya untuk membaca candrasengkala adalah dibaca terbalik.  Seperti candrasengkala yang teringat dari saat SD yaitu “sirno Ilang Kertaning Bumi” dimana sirno dan ilang itu artinya “hilang” dan mempunyai nilai O, kerta itu nilainya 4 dan Bumi adalah 1 sehingga menunjukkan angka tahun 1400, dimana kerajaan Majapahit runtuh.

Lha untuk tahun jawa sekarang candrasengkalanya apa? nah itu ada berbagai macam versi, seperti tulisanku sebelumnya juga ada candra sengkala untuk tahun jawa 1945. Tetapi ada juga versi lain, aku dengar saat mengikuti Ekaristi minggu pagi, Rm Julius Blasius Fitri Gutanto Pr mengatakan bahwa tahun jawa 1945 juga mempunyai candra sengkala “Butho Dadi Dewaning Jalmo”, atau Butha menjadi Dewanya Manusia. Sungguh candra sengkala yang menakutkan dan mungkin sedang pas-pasnya dengan kondisi Indonesia.

Sifat Butha yang rakus menjadi tuhannya manusia.  dan tidak heran banyak sekali pejabat yang terkena masalah dinegeri ini. Mungkin akan bertambah lagi manusia Indonesia yang mempunyai sifat Butha. Semoga hal itu juga tidak terjadi. Marilah berjaga-jagalah…..

Tahun Baru 1433 Hijriyah / tahun baru Jawa 1945

pada tanggal 27 November 2011M, merupakan tahun baru hijriyah 1433, juga merupakan tahun baru penanggalan Jawa yang bertepatan dengan tahun jawa 1945. angka 1945 merupakan angka yang akan diingat oleh bangsa ini. ada yang menulis candra sengkala untuk tahun jawa 1945 adalah “PANCASILA KARTINING HAMBUKA NUSWANTARA”

Selamat Tahun baru………………

Pernikahan, Sebuah awal gerbang Baru

Pernikahan merupakan sebuah peristiwa yang penting dalam kehidupan seseorang, baik Pria maupun wanita.

Di dalam Genesys 2:24 dikatakan bahwa “seorang laki-laki meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”.  Kesatuan dalam perkawinan bukan hanya soal “janji dan bukti tertulis”  tetai suatu perkawinan menjadi suatu peristiwa menjadi manusia baru. Suami hidup dalam istrinya, dan istri dalam suami.

Dalam tradisi gereja katolik, Seseorang yang menikah akan mengucapkan janji nikah yang rumusannya sebagai berikut:

Saya……….. dihadapan Imam dan para Saksi. dengan tulus hati memilih…. …yang hadir disini, mulai sekarang menjadi suami/istri saya. saya berjanji setia kepadanya, Dalam untung dan malang, dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, dan saya mau mencintai dan menghormati dia seumur hidup saya. demikianlah janji saya, demi Allah dan Injil Suci.

menjadi sepasang suami istri itu bukanlah sesuatu yang terpaksa maupun dipaksa, tetapi karena ketulusan hati dari kedua mempelai. Mereka akan hidup bersama untuk menghadapi badai rumah tangga bersama-sama baik dalam suka maupun duka disaat sehat maupun sakit serta saling mencintai dan menghormati diantara keduanya.  Perkawinan merupakan suatu sakramen dalam tradisi Katolik, karena pernikahan merupakan  suatu bentuk pengungkapan iman kedua mempelai dihadapan Allah.dan itulah mengapa  “yang telah dipersatukan Allah jangan diceraikan manusia”.

Yesus sendiri menampakkan ke Allahannya untuk yang pertama kali adalah saat persta pernikahan di Kana. Sehingga suatu pernikahan itu di mata Allah menjadi suatu proses yang penting bukan semata hanya prosesi. Sebuah Proses, karena pernikahan itu bukan hanya menyangkut prosesinya saja tetapi bagaimana menggeluti pernikahan itu seumur hidup. Banyak sekarang sebuah pernikahan bukan dilandasi oleh iman tetapi hanya karena nafsu sesaat, sehingga nilai suatu pernikahan sebagai sebuah janji kepada Allah hanya sebagai bagian dari prosesi yang akan cepat untuk dilupakan. Sehingga saat mengarungi bahtera Rumah Tangga, Allah yang seharusnya menjadi dasar iman mereka  berkeluarga dikesampingkan. Tidak heran jika perceraian terjadi dimana-mana karena mereka berkeluarga bukan Allah sebagai tujuan dan dasar  mereka membangun keluarga.