Arsip Kategori: tradisi dalam cerita

Menikah dengan gaya basahan kraton ngayogyakarta hadiningrat

Menikah merupakan satu step yang harus dilalui setelah kami menjalani masa pacaran yang bisa dibilang cukup lama, lebih kurang 4 tahun lebih. Banyak hal yang dilewati, memahami satu sama lain yang menjadi rintangan terbesar. Menyatukan dua hati dan dua kepala memang tidaklah mudah, kadang kala tidak bisa selaras, tidak bisa setujuan.

Begitu juga pernikahan yang kami rancang juga tidak berjalan semulus seperti rencana yang kami mau. Ketika kami melangkah sendiri banyak hal yang tidak kami mengerti, banyak hal yang ada d luar kemampuan kami. Kami hanya menginginkan semua orang bisa merasakan bahagia.

Pertama yang dilakukan kebanyakan orang jawa adalah menentukan hari baik baru mencari yang lain seperti gedung. Tetapi kebalikan bagi kami, kami mencoba mencari gedung, setelah dapan baru tanggal sesuai gedung. Memang janggal, tetapi bagi kami semua tanggal dan hari adalah baik adanya.

Rencana manusia bukanlah rencana Tuhan, seperti itu yang kami rasakan. Kami sudah booking sebuah gedung bergaya jawa d daerah jombor, ya kami memilih gedung itu karena konsep pernikahan kami adalah modern saat janji perkawinan d gereja dan adat jawa pas resepai.

Tanggal sudah ditentukan pada sekitar pertengahan januari 2017 silam, dp sudah dibayar. Tanggal sudah diumumkan pas pertunangan kami. Tetapi kiranya rencana Tuhan lebih indah. Setelah berjalan beberapa saat, rencana itu berubah. Ternyata gedung yang kami inginkan tidak bisa mendatangkan catering dari luar (kalau dari luar hrs tambah fee), harus tambah tenda dan lain hal.

Bulik yang kebetulan saat itu kami mohon bantuannya mengenai pernikahan kami menjadi malaikat penolong, dengan memberikan  berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk tidak ambil gedung itu.

Tuhan juga tidak akan lepas tangan begitu saja terhadap kami, ternyata di Grha Sabha Pramana UGM masih ada hari lowong, pas hari raya imlek belum ada yang booking, tapi konsekuensinya tanggal nikah kami mundur seminggu. Tidak apalah yang penting bisa dapat gedung. Maka diputuskan kami menikah d GSP ugm yogyakarta memakai adat jawa basahan Prosesi dimulai dengan panggih, sang mempelai wanita yang sudah ada di dalam gedung akan dipertemukan dengan p3ngantin pria. Sebelum itu utusan pengantin pria membawa pisang sanggan utuk diberikan kepada keluarga mempelai wanita Kemudian dilakukan acara panggih Setelah itu saling melemparkan daun sirih Mempelai perempuan membasuh kaki mempelai laki laki Jika di daerah lain telur akan diinjak oleh mempelai lakilaki, pada prosesi yang kami lakukan, telur akan dipecahkan terakhir. Sebelum kami naik ke pelaminan, ada satu tradisi unik yaitu edan-edanan, edan dalam bahasa indonesia artinya gila. Edan-edanan merupakan tarian untuk penolak bala dengan dilakukan sepasang penari dengan gerakan tarian seperti orang gila, didukung juga dengan tatarias dan busana.

IMG_9855

IMG_(123)[1]

IMG_7820[1]

IMG_9869[1].jpg

setelah prosesi kirab kedua mempelai ke atas pelaminan disertai dengan tarian edan-edanan, prosesi selanjutnya adalah kacar-kucur, dimana merupakan simbol sang mempelai laki-laki memberikan nafkah kepada istrinya. dan oleh sang mempelai perempuan, bungkusan yang diberikan oleh suaminya akan ditunjukkan kepada kedua orang tuanya

IMG_9875[1]

IMG_9878

IMG_9881

IMG_9883

IMG_7849[1]

prosesi dilanjutkan dengan sungkeman, memohon doa kepada kedua orang tua yang telah membesarkan dan merawat kami berdua

IMG_(148)[1].jpg

IMG_7854

setelah semua proses dijalani, dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Itulah sekelumit cerita pernikahan kami dengan memakai adat jawa. Banyak hal yang mungkin tidak kami lakukan dalam prosesi, tetapi kami bersyukur bisa mengikuti adat seperti yang kami mau

 

Iklan

Grebeg Maulud di masjid gede kauman Yogyakarta 2014

Image

Pagi itu, 14 Januari 2014, kegiatan diawali dengan agenda melihat Grebeg Maulud. Ini merupakan salah satu event menarik di kota budaya ini, meskipun grebeg serupa juga diadakan di keraton surakarta. Grebeg Maulud sendiri dilaksanakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad. Pada kesempatan ini, pihak keraton memberikan rasa  syukur dengan memberikan gunungan yang antinya akan di”rayah” oleh segenap warga yang hadir dalam acara ini. Jalannya prosesi upacara tradisional GrebegMaulud diawali dengan iring-iringan Gunungan Lanang, Wadon, Gepak, Pawuhan dan Dharatserta Gunungan Bromo yang dikeluarkan dari dalam Kraton Ngayogyakarta Hadiningratmelewati Siti Hinggil, Pagelaran, Alun-Alun Utara hingga berakhir di halaman masjid GedeKauman Yogyakarta jam 8an ku sudah menginjakkan kaki di alun-alun utara yogyakarta, Di depan masjid gede kauman ternyata sudah berkumpul banyak orang yang akan mengikuti acara grebeg maulud ini. Meskipun Grebeg di Keraton Yogyakarta ini dilaksanakan bukan hanya pada saat perayaan Maulud nabi saja tetapi juga dilaksanakan pada saat Besar dan idul Fitri, yang merupakan Perayaan keagamaan bagi umat muslim. Hal ini juga menunjukkan bahwa kasultanan Yogyakarta, dimana sultan berkedudukan bukan hanya sebagai penguasa wilayah tetapi juga sebagai pemimpin dan pemuka agama “sayidin panata gama, khalifatullah tanah jawa” kalau tidak salah (sudah tidak membuka buku sejarah berapa lama ya). itulah sepenggal dari nama resmi Sri Sultan yang berkuasa di kasultanan Ngayogyakarta hadiningrat. Image

Ini pertama kalinya aku mengikuti prosesi grebeg Maulud di pelataran masjid Yogyakarta, dulu pernah di masjid gede keraton surakarta, maupun di kepatihan Yogyakarta. tetapi ini pengalaman pertama di Masjid Gede kauman keraton Yogyakarta. Sudah sejak pagi orang-orang berkumpul disekitaran Masjid gede kauman, bukan hanya berasal dari yogyakarta sendiri tetapi dari berbagai tempat dari seluruh pelosok tempat. Motivasinya ada bermacam-macam mengikuti acara  seperti ini, mulai dari “ngalap berkah” sampai hanya mencari foto saja seperti aku.

. Image

Mulai pagi, pintu depan Masjid agung sudah ditutup, warga yang sudah berada di dalam diminta untuk berada di samping utara maupun selatan pelataran depan masjid, dengan dibatasi sebuah tambang, tapi ya namanya banyak orang, pasti susah banget mengaturnya. Yang belakan sering mendorong pengunjung yang berada di bagian depan, ada yang ingin merangsek masuk.

. Image

Hampir 3 jam menunggu dibawah suasana yang cukup panas, meskipun malam sebelum acara ini hujan deras melanda hampir seluruh wilayah yogyakarta, tetapi pagi ini suasana begitu terik. Untung banyakpenjual yang ada disekitar halaman masjid agung ini. Salah satunya ibu ini yang mencoba peruntungan dengan menjual dawet

Image

luamayanlah semangkok dawet bisa sebagai pengobat rasa haus yang melanda, setelah semangkok ternyata enak, akhirnya nambah lagi.. hahahaha, akhirnya cukup 2 mangkok dawet saja, langsung diminum tanpa menggunakan sendok (kayak minum dawet jaman dulu langsung dari mangkoknya)

Cukup lama menunggu…. menunggu dan menunggu…… hingga setelah 3 jam menunggu, jam 11 kurang gunungan baru memasuki masjid agung. ada 5 gunungan yang dibawa menuju masjid agung ini.

Image ImageImageuluImage Image

Setelah didoakan oleh imam masjid agung, Gunungan persembahan dari Keraton tersebut langsung di serbu oleh warga….. kadang Banyak yang sudah tidak sabar berebut gunungan meskipun imam belum selesai berdoa…

Capek nunggunya, berdesakan, itulah yang dirasakan….. setelah acarapun jalan sekitar alun2 padat banget, orang jalan pun berdesakan. tapi itulah pengalaman yang luar biasa.

Pisowanan agung dalam rangka HUT kota Yogyakarta

Siang itu kawasan titik nol km Yogyakarta penuh sesak dengan ribuan manusia yang berjajar di sepanjang jalan dari lapangan parkir ngabean hingga depan kraton Ngayogyakarta. Bukan untuk demo atau unjuk rasa, melainkan melihat pawai dan ikut serta dalam “pisowanan Agung”. Kegiatan “pisowanan agung” tersebut merupakan puncak dari serangkaian acara peringatan hari ulang tahun Kota Yogyakarta.

Image

Pisowanan adalah sebuah tradisi dalam kerajaan-kerajaan Jawa, di mana bawahan-bawahan raja/sultan datang (sowan) ke istana untuk melaporkan perkembangan daerah yang dipimpinnya. Pisowanan boleh dikatakan merupakan sebuah wujud pertanggungjawaban pemimpin-pemimpin daerah kepada raja. Setelah mendengarkan laporan dari para bawahannya, raja/sultan biasanya akan memberikan nasihat, teguran, ataupun perintah (titah) bagi masing-masing pemimpin daerah.

ImageImageImageImageImageImageImage

Image

Sultan yang datang dengan setelan jas lengkap kemudian menyampaikan “sabdatama” terkait hari ulang tahun Kota Yogyakarta yaitu harapannya agar Kota Yogyakarta bisa berkembang sebagai kota yang humanis.

“Pembangunan fisik di dalam era modern seperti saat ini memang tidak bisa dielakkan. Namun, pembangunam tidak boleh dilakukan dengan menggeser ruang-ruang publik yang ada,” katanya.

Pembangunan yang dilakukan dengan orientasi material semata, lanjut dia, justru akan menimbulkan “kekosongan” di tengah masyarakat karena warga tidak akan bisa saling berinteraksi.

“Pembangunan harus dikembalikan ke arah yang benar sehingga tercipta karakter kota yang humanis. Prosesnya boleh jadi sangat panjang, namun harus tetap dilakukan bukan justru berhenti,” katanya. (sumber http://www.antaranews.com/berita/399400/ribuan-warga-yogyakarta-lakukan-pisowanan-agung-peringati-hut).Image

ImagesaImageImageung,ImageImage ImageImageImageImage

dieng, surga di atas awan 3, anak-anak berambut gembel/gimbal asli dieng (shabby hair children from dieng plateau)

Dieng memang memiliki beragam keunikan, Baik dari segi alam budaya bahkan orang dieng itu  sendiri. Salah satu keunikan yang dapat ditemui di dataran tinggi yang berada 2000 meter diatas permukaan laut ini adalah adanya anak-anak yang mempunyai rambut Gimbal/gembel. Seperti pada umumnya rambut gembel, rambut anak-anak di dieng juga menyatu dan sulit untuk dipisahkan. Tidak seperti orang dewasa yang memang sengaja membuat rambutnya menjadi gembel, rambut gembel anak-anak dieng alami terjadi, bahkan tidak tahu apa penyebabnya, dan biasa ditandai dengan munculnya panas dan demam yang tidak kunjung sembuh. Orang dieng percaya bahwa rambut gimbal akan dapat membawa berkah maupun musibah.

Ada juga cerita rakyat dieng, konon kabarnya, Anak Gimbal Dieng adalah titisan dari Kyai Kolodete. Kyai Kolodete dianggap sebagai luluhur pendiri Dieng. Leluhur ini bukan sesosok gaib, melainkan sesosok manusia yang pertama kali membuka tanah Dieng. Ia hidup pada masa kejayaan Mataram. Kyai Kolodete ini memiliki rambut gimbal.

ketika sedang melihat tari topeng, kesenian khas Dieng, ternyata ada sesuatu yang lebih menarik untuk diabadikan….. seorang anak dengan rambut gembel/gimbal. Menurut adat kebiasaan orang dieng, untuk memotong rambut gembel/gimbal itu harus dengan prosesi ruwatan, yaitu prosesi untuk membebaskan anak dari pengaruh buruk. Pada saat ruwatan tersebut, orang tua harus memberikan apa saja yang menjadi permintaan sang anak. Setelah dipotong, nantinya rambut akan tumbuh dengan normal kembali.

dieng, surga di atas awan 2, tari topeng lengger Dieng

Dieng, sebuah surga di atas awan. Memang kata itu pantas melekat pada dieng. selain keindahan alam dan potensi alam yang begitu besar, di Dieng ternyata kesenian tradisional juga masih ada dan membudaya dalam masyarakat.

Salah satu kesenian tradisional yang ada di Dataran tinggi dieng adalah kesenian tari topeng. Tari topeng lengger begitu beberapa orang menamai kesenian ini. Kesenian ini diangkat dari cerita rakyat yang cukup terkenal yaitu panji Asmara Bangun atau inu kertapati dan Galuh candra kirana atau dewi sekartaji.

Penari setiap pementasan terdiri dari penari laki-laki dan perempuan. dimana penari laki-laki mengenakan topeng dan menari sesuai dengan karekteristik topeng tersebut, Kesenian tradisional ini juga mengandung unsur mistis, dimana penari laki-laki akan mengalami kerasukan setelah beberapa saat menari dengan penari perempuan…..

Perayaan Ekaristi Tahun Baru Jawa 1 Suro 1946

Hari ini tanggal 15 november 2012 merupakan hari yang tidak biasa, hari ini merupakan tanggal 1 Suro 1946 (tahun baru jawa) atau merupakan tahun baru muharam. Tanggal 1 suro sering dianggap sebagai salah satu hari yang wingit atau sering bernuansa mistis. pada 1 suro, digunakan untuk melakukan berbagai macam “lelaku” maupun waktu yang baik untuk melakukan jamasan senjata pustaka.

Malam 1 suro tahun ini menjadi malam yang tidak biasa bagi umat di Paroki St Theresia salam, inilah pertama kalinya dilakukan misa 1 suro. Misa 1 Suro mungkin masih dianggap aneh dan jarang dilakukan, misa ini seperti misa tahun baru nasional maupun misa imlek bagi teman-teman tionghoa. Malam ini merupakan tahun baru Jawa, perayaan yang dimaknai syukur atas tahun yang telah boleh dilalui bersama. misa 1 suro ini digelar dengan cukup meriah dengan adat jawa, dengan diiringi gendhing jawa dan peraga maupun umat banyak yang mengenakan pakaian adat jawa.fragmen misa 1 suro

Misa 1 suro ini diawali dengan sebuah fragmen sederhana. Diawali dengan tokoh punokawan yang merupakan sosok yang mencerminkan sifat hidup manusia, mengantar umat untuk menyiapkan diri merayakan ekaristi. Sebelum Ekaristi Kudus ini dimulai, hujan begitu lebat seolah ingin menumpahkan seluruh air ke bumi. Karena begitu lebatnya hujan yang turun di sekitar pendapa Bunda Maria Penolong paroki St Theresia salam ini, mengakibatkan tenda umat sampai patah karena tidak kuat menahan air yang turun.

tenda roboh

Meskipun membuat umat yang berada dibawah tenda kalang kabut tetapi hal itu tidak menyurutkan umat untuk mengikuti perayaan Ekaristi 1 suro ini. Karena tenda roboh, mengakibatkan ekaristi harus digelar di 2 tempat yaitu di dalam Gereja dan di pendapa Maria Bunda Penolong.

pendapa Maria bunda Penolong

umat

putra altarpengrawit

Perayaan Ekaristi ini dipimpin oleh Rm Lambertus Issri,

pendapa Maria Bunda Penolong

rm lambertus Issri Seperti bacaan pada hai ini ketika Sepuluh orang kusta yang berada di desa perbatasan Galilea dan Samaria, suatu hari bertemu Yesus lalu berteriak meminta belas kasihan. Menanggapi permintaan tersebut maka Yesus memerintahkan mereka pergi menunjukkan diri kepada para imam agar dilihat apakah sudah tahir dari kusta. Dalam perjalanan kesepuluh orang kusta tersebut ternyata tubuh mereka menjadi tahir. Hanya seorang dari mereka yang kembali kepada Yesus untuk bersyukur atas kesembuhannya. Ia adalah seorang Samaria.

penyakit Kusta merupakan penyakit yang sangat kotor, orang yang menderita kusta akan diasingkan dan dijauhkan dari masyarakat, karena mereka dianggap bukan hanya badannya yang kotor tetapi hati mereka juga kotor. Mereka oleh Yesus tidak disuruh untuk pergi ke tabib atau ke dokter, melainkan menyuruh mereka untuk pergi ke Imam agar mereka  ditahirkan dari kusta. perayaan 1 suro juga dapat dimaknai sebagai proses pentahiran dari dosa menuju manusia yang lebih baik. Tahun baru ini diharapkan menjadi tahun yang lebih baik dari tahun yang kemarin, yang dianggap sebagai tahun yang tidak baik.

Tubuh darah Kristus

Pada akhir Perayaan ekaristi ini dilakukan pemercikan air Suci disertai bunga melati, seperti halnya jamasan senjata pusaka. Jamasan berarti memandikan, mensucikan, membersihkan, merawat dan memelihara. Pemercikan Air Suci untuk menyucikan tubuh dan jiwa manusia yang selama ini sering jatuh dalam Dosa.

pemerkatan air suci

pemercikan air suci

pemercikan air suci

Magelang juga punya night carnival

wah ternyata ada file yang belum ku buka… night carnivalnya orang magelang, di jogja sudah ada jogja night carnival, di solo sudah ada juga Solo Batik Carnival… ternyata di magelang juga ada lho… meskipun nggak semeriah di solo atau di jogja, tapi inilah wujud kreativitas orang magelang.

Pawai ini dilaksanakan tanggal 21 April 2012 sepanjang rute jalan utama magelang. karena kesibukan PKL di apotek jadi baru sempat upload… tema umumnya mungkin 9 naga ya… banyak banget barongsai china. mungkin tahun depan temanya bisa lebih diperjelas dan lebih dibuat unik seperti di solo yang punya beberapa panggung kehormatan, kemarin itu penonton yang cukup banyak membuat susah untuk bisa menikmati pertunjukan-pertunjukan peserta pawai.

ini beberapa fotonya:

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.