BPJS itu baik atau tidak? sebuah cerita dari Tulip

IMG_20151029_135404

Hari ini akan cerita sedikit tentang sistem jaminan kesehatan di negeri kita tercinta. BPJS beberapa saat yang lalu sempat heboh karena adanya keraguan tentang sistem jaminan melalui badan penyelenggara jaminan sosial ini. Semua kembali kedalam pribadi masing-masing. Mungkin ada yang masih ragu atau tidak mau ikut jaminan sosial lewat BPJS ini. sekarang kita melihat satu sisi dari jaminan ini. Pada bagian atas kenapa saya memperlihatkan gambar tersebut. Itu adalah faktur salah satu pasien, Pasien Kanker tepatnya di Tulip RSUP Dr Sardjito Yogyakarta. Kebetulan saya sehari-hari berada di sana.

Pasien tersebut mendapatkan obat Tasigna (nilotinib). obat tersebut dikonsumsi setiap hari (1×4 tablet) oleh pasien. pasien akan kontrol setiap 4 minggu dan akan mendapatkan obat sejumlah 112 tablet (untuk 28 hari/4 minggu). 49 juta lebih, itulah harga obat yang hanya 112 tablet dan hanya untuk 1 bulan. Bayangkan jika pasien itu setiap bulan harus menanggung beban bayar sebanyak itu? Kerjaan apa coba yang gajinya sebesar itu tiap bulan? mungkin yang pengusaha sukses sangat mudah mencari uang sebesar itu. Tapi kalau warga biasa yang kerjanya PNS, atau bahkan mungkin hanya buruh harian, sangat tidak mungkin bisa menebus obat itu.

Obat Kanker tidak murah… tapi sekarang banyak sekali penderita kanker. Jika dulu pernah dengar cerita penderita kanker harus menebus obat puluhan juta hanya untuk kemoterapi, dan itu memang benar. Contoh saja obat kemo herceptin (trastuzumab) itu harganya bisa mencapai 22 juta rupiah, dengan siklus kemoterapi setiap 21 hari dan bisa berlangsung hingga 8 siklus. Berapa banyak yang harus dibayarkan.

Mungkin sekarang banyak pasien yang sangat terbantu dalam menghadapi penyakitnya itu. Hampir semua pasien kanker di Sardjito menggunakan jaminan BPJS untuk pengobatan kanker. Jadi semua obat yang diberikan DIJAMIN oleh BPJS sehingga pasien tidak lagi mengeluarkan biaya sebesar itu lagi untuk proses kemoterapi.

Sekarang kembali ke anda mau ikut BPJS atau tidak, toh tidak ada ruginya, kalau anda sakit bisa dijamin asalkan sesuai dengan diagnosa dan obatnya. Kita tidak mengharap kita punya penyakit, tapi ya untuk mengantisipasi. Kalau yang merasa keberatan untuk ikut entah dengan berbagai alasan, termasuk karena tidak pernah sakit…. ya kita ganti cara pandang kita. Kita ikut BPJS ya kalau orang jawa bilang “idep-idep” ikut membantu pemerintah dengan memberikan subsidi silang bagi saudara kita yang seperti cerita di atas. Coba dengan cara apalagi kita akan mensuport para penderita kanker ini, mau dengan kampanye, mereka tidak butuh. Dengan simpati… belum cukup, ya menurut saya kita bantu mereka dengan mendukung sistem JKN tetep berjalan dan semoga makin banyak obat dan pengobatan yang dijamin bagi mereka…

Salam dari orang yang melihat pasien Tulip Sardjito

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s