Farmasi Industri menuju farmasi Klinik

images

Banyak orang mengangkap kalau seorang Apoteker itu tahu tentang semua obat. Ya, mereka tahunya kalau Apoteker itu belajar tentang obat, itu memang tidak salah tetapi juga tidak 100 % benar. Buktinya aku, meski ada gelar Apt tetapi aku tidak tahu tentang obat. Sering banyak orang yang bertanya tentang obat A, B,C maupun D yang belum tentu aku tahu. Mungkin kalau obat-obat yang umum sih tahu, tapi kalau sudah sampai terapinya dan interaksi….. wes mumet.

Lha kok Bisa? mungkin ada yan heran ya? ya bisa donk.. seperti anak SMA, yang sudah dijuruskan IPA/IPS/Bahasa…. seperti itu juga di jamanku kuliah, sudah dijuruskan menjadi Farmasi Industri, Farmasi Klinik dan Farmasi bahan alam. Ya seperti anak IPA ditanyain Akutansi pasti pusing, meskipun dasarnya mereka tahu, atau anak IPS ditanyain geometri…..

Sebenarnya aku orang Industri yang diajari bagaimana analisis obat, sintesis obat, rekayasa genetika, managemen Farmasi Industri. Meskipun kesemuanya hanya sampai di teori. Lha? ya orang bekerja kan harus menyesuaikan dimana dia bekerja, kalau bekerja di analisi atau di LAB ya ilmu analisisnya berguna. Sementara aku adalah orang produksi di Industri, Ilmu farmasi dasar terutama teknologi farmasi banyak membantu, tetapi yang utama adalah bagaimana me”manage”, baik waktu, orang, bahan. Lha memanage orang itu yang tidak diajarkan di bangku sekolah. Ilmu psikologi manusia yang seharusnya diajarkan kan gak ada di matakuliah Farmasi, Padahal di produksi harus selalu berinteraksi dengan manusia, bagaiamana mengatur orang, mengawasi orang, dan kadang harus berdebat dengan banyak orang lintas departemen.

Lha kan oang kan bisa di tekan atau gmana supaya bisa jalan… Ya kalau di perusahaan farmasi yang besar sistem sudah terbangun dengan baik, permasalahan tidak terlalu banyak. Tetapi cobalah untuk mengunjungi perusahaan yang berkembang atau kecil, dimana segala keterbatasan harus diatasi mulai dari bahan baku, mesin, operator, fasilitas pendukung baik alat maupun ruangan. Faktor human juga berpengaruh, karena sistem belum benar2 berjalan maka sering faktor operator berpengaruh. Kalau hatinya baik, hasil kerjanya juga baik, tetapi kalau suasana hati tidak mendukung? banyak kejadian yang justru memperburuk suasana, dimana hasilnya jelek, tidak terkontrol dan lain-lain.

Pertengahan bulan februari 2015 ini ada yang berbeda denganku. Aku resign dari Industri Farmasi dan beralih menjadi tenaga honorer (digaji negara) di RSUP di kota yogyakarta. Begitu masuk, banyak senior Farmasi yang sudah ragu karena background ku industri, yah memang mereka tidak salah, karena spesialisasiku di industri, kalau di klinik ya harus dimulai dari nol lagi. “Kamu itu tidak cocok untuk kerja di rumah sakit, kompetensimu beda”. ya mau nggak mau harus belajar tentang terapi, interaksi, pelayanan farmasi, yang semuanya berbeda dengan kehidupanku selama ini di industri.

dan awal perjalanan farmasi klinik ku dimulai dari sekarang………………………………………

Iklan

One thought on “Farmasi Industri menuju farmasi Klinik”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s