Perlukah Antimicrobial preservatives dalam sediaan Farmasi

Sebenarnya perlu atau tidak ya sebuah bahan anti microba maupun anti jamur dalam sebuah formulasi sebuah obat?

Selama kuliah (jaman dulu) untuk formulasi sebuah obat, jarang atau bahkan tidak pernah diberi sebuah anti mikroba. Lha kalau begitu berarti sebuah formula obat itu gak perlu diberikan anti mikroba atau anti jamur? Jika formulasi menggunakan granulasi basah sekalipun ketika kadar air granul <5% kemungkinan granul tersebut sudah mempunyai kemampuan untuk tahan terhadap pertumbuhan mikroba. tetapi ternyata ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi stabilitas dari granul maupun tablet hasil cetakan yang memaksa seorang formulator membuat formulasi obat dengan penambahan Antimicrobial preservatives.

Sebuah pabrik Farmasi didesain untuk memenuhi syarat pembuatan obat yang baik termasuk di dalamnya penggunaan sistem HVAC yang memenuhi syarat untuk produksi obat (baca CPOB sendiri ya). Tetapi kadang belum semua pabrik farmasi mempunyai sebuah sistem HVAC yang mumpuni untuk menanggulangi crosscontamination maupun kontaminasi lain dari jamur maupun bakteri. Jika demikian ada faktor luar yang mempengaruhi sebuah granul untuk dapat bertahan dari kontaminasi luar. Selain itu faktor personal hygiene dari masing-masing operator baik saat granulasi, cetak maupun stripping juga sangat berpengaruh pada kontaminasi itu sendir. makanya pentingnya hygiene dalam proses produksi. tapi apakah semua pabrik farmasi sudah menerapkan hal-hal tersebut dengan baik? Jadi tidak heran jika ada sebuah pabrik farmasi harus menambahkan Antimicrobial preservatives dalam setiap formulasi obatnya dengan alasan jika tidak ditambah maka kestabilan obat tersebut dapat terganggu.

Antimicrobial preservatives diklasifikasikan menjadi dua sub-kelompok: anti-fungal preservatives and anti-bacterial preservatives. Anti-fungal preservativesr termasuk senyawa seperti asam benzoat dan askorbat dan garamnya, dan senyawa fenolik seperti metil, etil, propil dan butil p-hydroxybenzoate (paraben). Anti-bacterial preservatives meliputi senyawa-senyawa seperti garam amonium kuartener, alkohol, fenol, dan mercurials biguanidines.

Paraben sendiri banyak juga dipakai sebagai Antimicrobial preservatives dalam formulasi sediaan obat. Paraben lebih cenderung melawan yeast dan kapang daripada melawan bakteri. Selain itu paraben juga lebih baik untuk bakteri gram positif. Penggunaan paraben dalam formulasi:

IM, IV, SC injections 0.005–0.2 %
Inhalation solutions 0.015%
Intradermal injections 0.02–0.26%
Nasal solutions 0.017%
Ophthalmic preparations 0.005–0.01%
Oral solutions and suspensions 0.01–0.02%
Rectal preparations 0.02–0.01%
Topical preparations 0.01–0.6%
Vaginal preparations 0.02–0.1%
*dari berbagai sumber

#pengalaman pribadi…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s