Rasa itu….

          Entah kenapa pagi ini hatiku merasa gelisah ya.. mungkin karena masalah kemarin yang baru saja kualami. aku membuat marah temanku hingga akhirnya dia sampai sms aku supaya aku jangan telpon atau sms dia selamanya.  yah mungkin itu hal biasa bagi orang lain, tetapi aku merasa bersalah hingga membuatnya begitu marah, yah mungkin karena kebodohanku ya.

         Rasa tidak nyaman itu semakin menggelayut di pikiranku.. sial… padahal hari ini aku harus ikut ujian.. bahkan untuk yang keempat kalinya. hari ini ada 2 ujian, semalaman aku masih merasa bersalah sehingga aku tidak fokus ke ujian. Berat harus menghadapi 2 ujian dengan rasa yang tidak nyaman.  Aku sengaja berangkat lebih lambat dari hari ujian biasanya, Aku ingin begitu sampai kampus langsung masuk ruang ujian dan mengerjakan lalu keluar. Begitu memasuki kampus, kulihat beberapa teman duduk-duduk di teras sambil membaca buku yang akan diujikan nanti.

          Begitu memakirkan sepeda motor bututku aku melangkah menuju depan ruang ujian. Masih 30 menit lagi sebelum ujian dimulai, akupun menyempatkan diri ikut nimbrung dengan teman-teman, mencoba belajar ditengah pikiran yang nggak karuan ini. Kulihat beberapa teman yang pandai-pandai pun mengulang mata kuliah ini, ah berarti aku nggak yang terbodoh, pikirku.

         Beberapa teman hafalannya sangat bagus dan mampu menghafal materi kuliah itu, aku memang dari SMA sudah malas menghafal. Aku cuma mendengarkan temanku, siapa tahu ada sedikit yang bisa kuingat nanti saat mengerjakan. Ujian kali ini ada dari 2 dosen, satu dosen biasanya openbook, jadi aku malas belajar materi dosen ini. Begitu mengerjakan ternyata dua-duanya closed book.. matilah aku, ya kukerjakan sebisaku… aku keluar lebih awal karena sudah pusing… biarlah, kan aku dah dapat nilai B untuk matakuliah ini.

          Setelah ujian aku langsung menuju ke ruang profesi untuk melihat pengumuman hasil ujian  satunya… oh.. ternyata sudah dapat nilai A, yang artinya aku tidak harus mengulang untuk yang keempatkalinya. Mendung menggantung di angkasa, pasti akan hujan seperti hari sebelumnya, sebaiknya aku pulang lebih awal, toh ujian yang berikutnya sudah tidak mengulang.  Perasaan raguku kembali datang, rasa tidak nyaman dihati yang sedikit terobati oleh ujian tadi kini kembali. Aku ingin mengadu… tapi pada siapa?

         Siapa ya yang bisa jadi curahan rasa tidak nyaman ini… tiba-tiba aku teringat ganjuran, triningsih. Aku harus ke mana, jarak dua tempat itu sangat jauh dari rumah, mendung juga kian menggantung, kalau hujan bagaimana? ku ambil motor dan ku melaju keluar dari kampus. Aku masih berfikir apa aku pulang saja toh langit mendung. Rasa  tidak nyaman itu yang memaksa aku harus pergi ke salah satu tempat itu. Tapi yang mana? ke ganjuran sedang ada persiapan buat acara besar esok, pasti akan ramai, pikirku. Ya nggak ada jalan, akhirnya ku putuskan harus pergi ke salah satu tempat itu. Sebelum ke sana aku mampir membeli lilin dan dupa (ini kan malem jumat, bisa buat nakut2in orang).

          Akhirnya kuputuskan ke ganjuran.. meskipun jauh, tapi beberapa waktu sebelumnya aku sering lewat sana untuk melakukan Praktek Kerja di salah satu puskesmas di sana. Perjalanan sambil merasakan tidak nyaman di hati itu sungguh tidak enak, tidak bisa menikmati suasana Jogja. Sesampai di ganjuran kupakirkan motor dan mulai aku berjalan menuju sebuah candi di ganjuran. Namanya Hati Kudus Tuhan Yesus  Ganjuran. mungkin aku lama tidak pernah berdoa secara personal, maka aku dituntun ke sini.

           Kuluapkan saja perasaanku di sana, siapa tahu aku bisa sedikit merasa lega, apalagi  aku percaya bahwa Allah akan mendengarnya. Aku banyak sekali berkeluh kesah, marah, dan segala macam rasa kutumpahkan. “Tuhan… ampunilah kesalahanku… jangan biarkan kesalahanku itu menghancurkan apa yang sudah terbangun…… ” kusesali kesalahanku itu. semoga aku makin menjadi dewasa dan bijaksana…..

           setelah selesai dengan keluh kesahku itu aku berdiam sejenak dan ku keluarkan kamera sambil mengambil foto candi itu

kulihat foto yang kuambil tadi, kuperbesar… kulihat ada anak yang sedang turun dari atas candi itu… aku pun melihat ke arah candi dan melihat anak tersebut masih berlari-lari sekitar pelataran candi… Tiba-tiba dalam benakku terlontar kata-kata yang tidak terpikirkan olehku… coba lihat anak itu, Kalau mau dekat dengan Allah haruslah seperti anak-anak itu, yang tanpa beban, yang dengan santainya bisa berlari-lari meskipun ditengah orang-orang yang sedang berdoa, anak-anak tidak akan dimarahi oleh pendoa-pendoa yang lain meskipun ia berjalan-jalan atau lari-lari. yang demikianlah yang empunya kerajaan Sorga.

           Yah mungkin selama ini aku merasa kurang terbebas dari beban saat menghadapnya… hanya permintaan2 dan beban saja yang ku keluh kesahkan pada Nya.. mungkin aku kurang seperti anak itu yang merasa nyaman di hadapan Allah, yang masih terbebas dari beban… Aku tidak menyambut Allah dalam diriku seperti seorang anak kecil. hah bisikan kecil yang sulit untuk kupahami….. di pojokan depan ada patung maria yang dinamakan Dyah Maria Ibu Ganjuran… ada pepatah yang mengatakan Per Marian ada Yesum, per Yesum ad Patrum… melalui tangan maria doa diharapkan akan disampaikan kepada Allah….

          tak terasa jam menunjukkan waktu   14.30, Aku harus pulang…  semoga rasa tidak nyaman itu tidak sebesar waktu sebelum ke sini…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s